LOGO manshoot Kami perlu masukan pembaca. Silakan kirim saran ke indonesiaradar@gmail.com / radar@indonesia.net atau hubungi 021.71795049/71792004
Berita Terbaru
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Dialog Lima Belas Menit: Sebuah Cerpen Karya Meliya Indri

Written By radar indo on Friday, February 6, 2015 | 10:11 AM

Penulis. (Dok.Pribadi)

“Nangis tiap malam! Maumu apa! Ibumu juga nggak pernah telat ngasih susu!” , jengkel dan bising Aku mendengarnya.
Njenengan itu gimana, dia masih bayi Mas? Jangan dicubit gitu!” diraihnya bayi sialan itu dari kasur. Aku langsung pergi.
“Aku berangkat!”
“Hati – hati.....”
Tiap hari mendengar tangisnya Aku bisa gila. Dari pada pusing lebih baik pergi bekerja menambah isi kantong walaupun harus keluar rumah sampai pagi. Semua ini gara-gara bayi sialan itu. Seandainya saja pacarku dulu -yang sekarang kunikahi- tidak kebobolan Aku masih bisa tidur lelap tiap malam. Di Jakarta Aku masih bisa hidup enak dari pada di kampung terpencil ini. Siang malam harus keluar rumah menggaruk uang menepis jalan.
Sepeti biasa, untuk memperoleh sekeping uang aku harus keluar malam mencari tokek untuk dijual. Meskipun hasil uang yang kuperoleh tidak seberapa, bekerja mengumpulkan tokek bisa menambah isi kantong, disamping bekerja keliling kampung berjualan kerupuk di siang hari. Aku tidak tahan mendengar tangisan bayi sialan itu. Sebenarnya sudah hampir kucegah kelahirannya. Kalau bukan karena istriku yang menangis dihadapanku, menolak menggugurkan kandungannya, sudah sejak saat itu bayi sialan itu mati. Kalau sampai dewasa kelak dia membuat Ibunya sakit hati aku tidak akan mengampuninya.
Aku mencoba mengenali seluruh sudut kampung. Membuang jauh-jauh rasa takut bahaya malam. Malam itu, sekitar jam satu. Aku melihat anak yang berusia sekitar dua setengah tahun sedang bermain di bawah pohon jambu. Ia sedang asyik bermain sambil nyeloteh, “Ibu, ayo temani adik main, kenapa adik dibiarkan sendirian?” tak lama kemudian ia menangis. Mungkin karena kesepian. Tidak heran, bayi sialanku yang baru empat bulan pun kadang menangis dan bangun di malam hari minta susu dan mengajak ibunya bermain.
Aku melihat anak itu tidak hanya sekali, malam berikutnya seperti malam – malam sebelumnya Aku juga melihat anak itu bermain di bawah pohon jambu sekitar rumah tetanggaku. Di desa ini aku penduduk baru. Sekitar 5 bulan yang lalu aku pindah di rumah istriku. Tidak banyak yang aku ketahui tentang desa ini apalagi tetangga-tetangga yang tinggal di sini. Aku dan istriku bertemu di kota perantauan. Karena kecelakaan Aku dan istriku menikah. Aku mencintainya, merencanakan menikah kalau sudah punya cukup uang hingga kami punya cukup modal untuk membuat usaha kecil-kecilan di desa. Tapi karena kesalahan, mau tidak mau kami pulang kampung. Mengingat biaya hidup di kota sangat mahal. Ditambah lagi kami punya beban seorang bayi yang tidak kuharapkan kelahirannya.
Hidup kami seharusnya bahagia. Namun sejak bayi itu lahir Aku merasa agak kecewa. Seperti belum siap. Rencanaku semula gagal. Istriku harus keluar dari pekerjaannya. Uang tabungan terkuras karena biaya untuk melahirkan bayi sialan itu tidak sedikit. Istriku hampir mati dibuatnya. Hampir kehabisan darah gara-gara bayi sialan itu. Aku pun mau tak mau harus ikut ke desa. Aku tidak tega meninggalkannya hidup di desa hanya dengan mertuaku. Apalagi ibunya sudah tua dan tidak kuat bekerja.
“Tin!!! Tini.....! Angkat bayi sialan itu!”, baru 5 menit merebahkan kepala di kursi, bayi sialan itu sudah berisik membuatku risih.
Njenengan kenapa kasar gitu ta Mas?” Kututup rapat – rapat telingaku dengan bantal.
“Ini anakmu, jangankan nggendong. Sekedar menciumnya saja nggak pernah. Sampai kapan Njenengan kasar kayak gitu?” Dari pada tambah pusing mendengar gerutu istriku. Aku bergegas ke kamar mandi. Mengguyur badan dengan air dingin kemudian kembali bekerja menggayuh sepeda ontelku.
Siang hari aku keliling dari kampung ke kampung menggayuh sepeda untuk menjual krupuk. Sebelum keliling Aku menyerahkan setoran modal kepada bosku. Setelah itu menggoreng krupuk mentah di pabrik, baru siap dibawa keliling. Begitulah pekerjaan orang kecil. Susah dan berat. Aku memilih menggoreng sendiri dari pada memakai tenaga orang lain. Biaya tenaga menggoreng bisa kukantongi sendiri. Selain itu juga untuk menghabiskan waktu dari pada hanya berdiam diri di rumah.
Di pabrik aku menjumpai banyak orang. Kebanyakan dari mereka adalah tetangga dan teman istriku. Sebenarnya kadang Aku merasa risih obrolan – obrolan mereka. Jika Ibu-Ibu sudah berkumpul, semua hal pasti diomongkan. Dari hal terkecil yang dilihat di sekitar rumah sampai masalah bintang sinetron dan polah pejabat mereka omongkan. Seperti pagi itu Aku mendengar mereka menjelek-jelekkan tetangga yang entah siapa Aku tak tahu.
“Oh, Arti hamil lagi?”
“Iya, kemarin priksa di puskesmas. Katanya hamil
“Lha kok nggak diremas lagi perutnya? Itu beneran anak suaminya?”
“Husss... Mbak! Sampeyan itu lho kalo ngomong!”
“Lha kenapa? Emang bener ta? Kalo bukan beneran anak suaminya pasti udah digugurin. Dulu janin yang dikubur dibawah pohon jambu samping rumahnya itu anak siapa coba? Janin masih satu bulan dibunuh!
“Lha mboh Mbak. Kalo dulu Aku nggak mau ikut campur. Kalo sampai suaminya tanya Aku bilang nggak tahu aja. Dari pada ngomong ini ngomong itu salah.”
Ku biarkan saja suara – suara itu berlalu. Tidak ingin mendengar tapi omongan mereka masih saja tertangkap oleh telingaku. Setelah pekerjaanku menggoreng selesai kumasukkan semua krupuk ke kantong plastik besar, kutempatkan di sepeda dan telah siap kubawa keliling kampung. Rumah ke rumah telah ku susuri hingga akhirnya sampai di kampung tempat Aku tinggal. Jauh sebelum sampai di rumah, pelan-pelan kugayuh sepedaku. Sampai di suatu rumah, ada suara memanggilku, “Mas, krupuk Mas!” Aku berhenti.
“Krupuk lima ribu ya Mas.” Wanita yang tadi memanggilku masuk rumah. Mungkin mengambil uang. Sampai selesai membungkus pesanannya, wanita itu belum juga keluar. Kulihat sekeliling rumah baru aku ingat. Ada pohon jambu di samping rumah. Anak itu, yang biasa ku lihat tiap malam. Di mana dia?
“Ini Mas uangnya.” Wanita itu tiba-tiba muncul di belakangku. Aku sedikit kaget dibuatnya.
“Makasih Mbak. Kok sepi Mbak? Anaknya mana?”
“Lha ini anak saya masih di perut Mas. Pengen jambunya ya Mas dari tadi nglihat sampai nggak tahu kalo saya udah disini.”
“Ah, nggak Mbak.”
“Sampeyan orang mana Mas? Kok saya baru lihat?”
“Orang sini aja Mbak. Saya suaminya Tini.”
“Oh. Suhartini? Yang kerja di Jakarta itu?”
“Iya.”
“Dia itu temen SD saya lho Mas. Sampeyan suaminya ta? Nanti kebetulan saya mau main ke sana. Gampang nanti saya bawakan jambunya.”
“Oh iya nanti saya sampaikan istri saya”, Karena sudah terdengar adzan magrib Aku bergegas pulang.
Sore itu terasa lelah sekali, sampai rumah Aku bergegas mandi setelah itu duduk di kursi ruang tamu. Rumah terasa sepi. Aku baru ingat istriku tadi pamit ke rumah Bu Lik-nya. Kebetulan karena tidak akan ada suara tangis bayi sialan itu. Ku rebahkan kepalaku di atas kursi panjang di ruang tamu.
Malam itu, Aku berjalan menyusuri sudut – sudut rumah di kampung. Seperti biasa, Aku melihat anak itu lagi. Kudekati anak itu. Dia sedang bermain masak – masakkan buah jambu yang jatuh di tanah. Karena membelakangiku mungkin dia tidak sadar ada orang di belakangnya. Semakin kudekati, semakin terdengar dia sedang memanggil Ibunya dan berbicara sesuatu. Pelan sekali.
“Ibu, ayo temani adik main, kenapa adik dibiarkan sendirian?” ku dengar ia mengucapkannya sambil menangis.
“Dik, Ibunya mana?” sepertinya ia tak menghiraukanku Aku membalikkan badanku dan berniat kembali melanjutkan pekerjaanku.
“Paman mau menemaniku bermain?” dia menoleh padaku.
“Paman harus kembali bekerja Dik. Ibumu mana? Main di dalam rumah sana. Sudah malam.” Aku melanjutkan langkahku. Baru satu langkah, samar – samar aku mendengar dia berbicara lagi sambil menangis pelan.
“Ibu jahat. Ibu akan menyesal nanti.” Ku tengokkan kepalaku ke arah anak kecil itu. Ternyata dia sudah tidak ada. Aneh. Ke mana Dia? Cepat sekali menghilang. Padahal jarak antara rumah dengan pohon jambu tempatnya bermain agak jauh. Mana mungkin dia bisa berlari secepat itu dan tidak terdengar suaranya.
“Mas, makan dulu.” Bergegas bangun. Kulihat jam dinding. Baru lima belas menit Aku tidur.
“Dari mana saja tadi?”
“Di rumah Bu Lik. Di jalan ketemu Arti teman SD mau main ke sini nggak jadi. Malah ngbrol di rumah Bu Lik. Nih dikasih Jambu. Katanya tadi ketemu Mas pas lagi jualan.” Ditaruhnya jambu itu di meja. Membuatku ingat mimpi barusan. “Dia seneng banget lihat Adit anak kita mas. Katanya seumuran anaknya yang pertama.”
“Bukannya dia punya anak perempuan umur sekitar 2 tahun?”
“Nggak, Dia baru hamil lagi. Dulu sebelum menikah dia hamil. Tapi digugurkan. Dipaksa sama ibunya katanya. Tapi jangan bilang siapa-siapa lho Mas!
“Sudah malam, sana tidur.” Aku langsung pergi ke ruang makan.
Masih teringat mimpi barusan. Gadis kecil yang biasanya kutemui di samping rumah arti membuatku penasaran. Malam itu Aku pergi mencari tokek. Sampai dirumah itu aku melihat gadis itu lagi. Aku mencoba mendekatinya. Kejadiannya sama persis dalam mimpiku tadi. Pelan sekali, aku mendengar anak itu mengucapkannya lagi.
Ibu jahat, Ibu akan menyesal nanti.” Ku tengokkan kepalaku ke arah anak kecil itu. Ternyata dia sudah tidak ada. Aneh sekali. Bulu kudukku berdiri. Aku langsung pulang dan tidak kulanjutkan perjalananku.
Di rumah kulihat istriku sudah terlelap. Aku sedikit bersyukur. Dia membuatku membatalkan niat membunuh anak kami. Seandainya dulu janin itu kugugurkan. Aku tak tahu balasan apa yang akan kuterima kelak.
“Sudah bangun Mas?” Istriku senyum – senyum melihatku.
“Tumben sekali semalam tidur di kamar memeluk Adit? Biasanya tidur di depan.” Tanpa menjawab kata-katanya Aku bergegas pergi keluar kamar.
***
Meliya Indri. Penikmat sastra dan budaya yang tinggal di Semarang.

Luruh. Sebuah Cerpen Karya Meliya Indri

Written By radar indo on Thursday, February 5, 2015 | 8:44 AM

ilustrasi (cahyani)
Menunggu? Sudah biasa. Aku sudah terbiasa menunggunya walau sampai tengah malam, bahkan hingga dini hari. Aku juga sering merapal mantra, “dia sibuk, dia sibuk, dia sibuk, dia sibuk.” kalau prasangka buruk sudah mulai menggerogoti pikiranku. Jika bukan aku, siapa lagi yang akan percaya padanya? Rakyatnya sudah banyak yang tak mempercayainya, bahkan lebih sering mencelanya. Dan aku, apakah mesti sama tak percayanya seperti mereka? Tidak, tidak boleh. Walau sejelek apapun dia, dia tetaplah suamiku. Aku juga harus meyakinkan putraku jika setiap malam mulai menanyakan keberadaannya. Seperti malam ini.

“Bu, Ayah kok belum pulang?”
“Ayah sibuk, sayang.”
“Sibuk ngapain, Bu?”
“Sibuk cari uang, buat jajan Ilham.”
“Pulangnya kapan, Bu?”
“Nanti malam, Ilham bobok dulu ya? Nanti Ibu sampaikan ke Ayah, Ilham pengin apa?”
“Pengin Ayah di rumah kalau siang, biar bisa main sama Ilham.”

“Iya, oke.. Nanti Ibu sampaikan. Ilham bobok dulu ya?” Aku memeluk Ilham menepuk-nepuk pundaknya sambil menyanyikan tembang kesukaan, yang setiap menjelang tidurnya selalu kulantunkan pelan, setelah mendongeng cerita. Sudah kebiasaannya, tak mau memejamkan mata sebelum didongengi sebuah cerita. Lalu ia akan bertanya kapan Ayahnya pulang kalau kisah yang kudongengkan ada hubungannya dengan sesosok ayah. Selepas itu, perlahan ia akan terlelap setelah kunyanyikan beberapa tembang secara beruntun tanpa berhenti. Dari lir-ilir, cublak-cublak suwung, padang bulan, pocung, gajah-gajah sampai menthok-menthok. Ilham pasti mulai terlelap sementara mataku masih lebar terang benderang.

Seperti biasa ketika menunggunya pulang aku menyalakan TV supaya tak dikungkung sepi. Sudah kukirim pesan aku menunggunya tapi tak ada balasan. Entah dia sedang sibuk apa. Benar-benar sibuk dengan tumpukan pekerjaannya, dengan istri pertamanya, atau dengan wanita jalangnya. Ah, entahlah. Aku jadi berprasangka buruk lagi. 

Di depanku lebih tepatnya di samping televisi, sederetan buku tersusun rapi. Aku mengambil salah satu novel koleksi suamiku. Kubaca untuk menghabiskan waktu, sementara televisi masih menyala tanpa kuperhatikan apa tayangannya. Belum selesai baca, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Aneh, siapa malam-malam begini bertamu? Tak mungkin suamiku. Karena dia selalu membawa kunci. Kalaupun kuncinya ketinggalan dia pasti menelpon ponselku. Dan kalau pulang, suara mobilnya pasti kedengaran. Agak ragu, tapi aku tetap membuka pintu.

Begitu kubuka, betapa kaget dan terkejutnya. Seekor ular welang raksasa masuk kedalam rumah. Setelah lebih dari setahun ular itu datang lagi, aku baru ingat aku melupakan sesuatu. Ular welang lalu melingkari badanku, tanpa melilit kencang, ia menatap mataku seperti hendak menyampaikan sesuatu.
“Maaf Mbah, aku lupa?” aku menenangkannya.
“Besok ya Wuk?” dia mengingatkanku.
Nggih Mbah.” Aku sudah tahu apa maksud kedatangannya. Begitu kukatakan besok akan kupenuhi kewajibanku dia langsung paham. Dan berjalan keluar perlahan.

Ah, ternyata ini. Aku melupakannya. Aku telat upgrade susukku. Pantas suamiku tak pulang hampir seminggu. Dia pasti di rumah istri pertamanya. Aduh, cerobohnya aku. Esok harinya, aku memasrahkan ilham ke pengasuhnya. Aku pulang ke kampung Simbokku. Meminta syarat untuk memperpanjang masa aktif susukku.

Mbok, aku lupa Mbok, maaf. Pantas Mas Herman nggak pulang seminggu.”
Aja sembrono Wuk. Sakkarepmu dhewe!1 Simbok memarahiku. Tanpa mengulur waktu ia langsung mengambil susuk yang kupasang di dekat vagina dan di belahan dadaku. Merendamnya di darah tujuh ayam cemani sambil merapal mantra. Lalu ia memasangnya kembali. Simbok yang juga ibuku sendiri memang sudah ahli kalau urusan begini. Kalau bukan karena Simbokku aku tak akan bisa memikat Mas Herman, suamiku yang terkenal orang paling berkuasa di kota ini. Aku mampu memikatnya setelah bermalam dengannya. Ia ketagihan, padahal istrinya cantiknya tak kalah denganku. Ternyata susuk yang dipasang Simbok bekerja dengan baik. Sampai dia menikahiku. Walaupun aku hanya sebagai istri kedua aku bersyukur. Aku mampu mengikatnya.

Malam ini, dia pulang. Sudah tak diragukan lagi keampuhan benda ini. Tapi ada sedikit masalah. Ketika kami hendak memadu cinta. Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah suara dari seberang mengabariku bahwa Simbokku dalam keadaan sakarotul maut. Aku tak percaya. Tapi suara dari sana memaksaku untuk segera pulang. Sekarang juga. Aku bergegas. Meninggalkan suami dan anakku. Aku memang bersikeras menyetir sndiri. Tak enak membuat suamiku kelelahan. 

Sampai di kampung Simbok masih sekarat, mungkin ia menungguku. Kemudian Nyi Sirrah menuturiku.
Wuk ini kalau ilmu hitam Mbokmu nggak kamu cabut. Dia nggak bakal mati tenang. Kamu ahli waris ilmunya. Kamu yang harus menerima turunannya.” Aduh, antara bingung dan kalut. Mendengar kabar itu dan melihat Simbokku tak berdaya seperti ini.

“Dibuang saja bagaimana Nyi?” Melihatnya dalam keadaan yang seperti ini, aku sedikit banyak juga takut apa yang kelak bakal kualami.

“Kalau dibuang. Danyangnya bakal nyerang kamu. Kamu ahli warisnya. Kamu juga yang sering menggunakan ilmunya ta? Nggak cuma pasien-pasiennya?” Nyi Sirrah semakin membuatku kalut dan takut.
“Ya sudah. Bimbing aku Nyi. Transfer ilmunya padaku.” Mau-tak mau aku harus mau. Karena ini tanggunganku.

Nyi Sirrah merapal mantra. Aku tunduk sambil sedikit melirik mengamatinya. Bergantian mengamati Simbokku yang semakin menderita. Aku duduk menunggu instruksi Nyi Sirah. Perlahan udara panas dingin masuk dadaku seirama dengan tangan Nyi Sirah yang mengarahkan sesuatu ke tubuhku. Ilmu di tubuh Simbokku luruh. Ngeri, aku hampir tak punya hati melihatnya. Pertama-tama sebuah kalajengking berlumuran darah keluar dari lubang matanya, kemudian luwing keluar dari mulutnya, entah apa lagi yang keluar dari dada dan lubang hidungnya aku tak sanggup melihat keadaan Simbokku lagi. Aku menutup mata, telinga supaya tak melihat peluruhan ilmu hitamnya lagi. Aku tak kuat mendengar rintihan Simbok. Sementara Nyi Sirrah, ia masih merapal mantra. Entah apa yang dia gumamkan. Ketika suara rintihan sakitnya perlahan berhenti Simbok sudah tak bernyawa lagi. Nyi Sirah menutup matanya. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya sudah tak ada reaksi apa-apa lagi.

“Gusti, seperti inikah balasannya?” Bibirku tersenyum kecut. Gusti? Barusan aku mengeluh pada Gusti? Sejak kapan aku kenal nama Tuhan? Entah ini salah siapa kalau keadaanku sampai seperti ini. Dan anakku, kelak apakah akan mengalami seperti yang kualami tadi?
***
Catatan:
1 Aja sembrono Wuk. Sakkarepmu dhewe!” --> “Jangan sembrono Nak. Seenakmu sendiri!”
Meliya Indri. Penikmat sastra dan budaya yang tinggal di Semarang.

Ulat-Ulat Hati: Sebuah Cerpen Karya Meliya Indri

Written By radar indo on Friday, January 30, 2015 | 1:04 PM

Meliya Indri, Penulis. (Foto: Dok.Pribadi)
“Apa kau pernah dengar cerita tentang ulat-ulat yang tumbuh subur di hati? Aku sangat tahu ceritanya. Apa kau ingin dengar? Tentang ulat-ulat yang punya lahan subur untuk hidup. Lahan yang tak biasa. Bukan di atas daun pohon jambu, bukan pula di ranting-ranting srikaya seperti di depan rumahku. Tapi mereka tumbuh subur di dalam hati. Iya, benar, di dalam hati. Dan lebih tepatnya, di dalam hatiku.” 


Kali ini Abimanyu hanya diam, mungkin mulai bosan dengan celotehanku yang kembali membahas tentang ulat. Lagi-lagi ulat, aku bicara tentang ulat lagi. Ia lalu lebih memilih beranjak meninggalkanku sendirian lagi di atas ranjang tua itu. Mungkin muak. Mungkin membenarkan. 


Aku hanya mampu melihat punggungnya yang perlahan keluar dari pintu dan meninggalkanku sampai tak bisa kutebak kapan dia kembali. Lalu mulai berfikir lagi di atas ranjang tua yang kaki-kakinya selalu berderit setiap malam. Hingga deritnya megalahkan igauanku yang lebih mirip dengan rintihan pesakitan kesepian ketika sendirian. Sendirian merindukannya yang tak kunjung datang walaupun sangat kuharapkan.


Aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, mungkin ia bisa dijadikan teman. Tapi jika tak satupun benda-benda di sekelilingku ada yang bisa memecah sepi aku mulai meluruskan kaki lalu bangun membuka jendela supaya udara luar membebaskan kungkungan sepi yang diaduk-aduk oleh hawa di dalam kamarku. Saat itu angin dingin mulai menusuk tulangku, lalu pelan-pelan membisikiku sesuatu.


“Kau bisa hidup lebih bebas. Bunuh ulat-ulat dalam hatimu! Bunuh dia, maka kau akan merdeka. Ulat-ulat itu akan menggerogoti kebahagiaanmu. Kau akan semakin kurus dibuatnya. Karena bertahan sebagai wanita simpanan selalu terdengar menyedihkan, dan akan membuatmu dicaci banyak orang. Ulat-ulat itu yang menggerogoti hatimu untuk tak peka dengan situasi yang kebanyakan orang pahami.”


“Benarkah? Benarkah itu? Lalu bagaimana caranya menyingkirkan ulat-ulat itu?” Belum menjawab pertanyaanku, kilat yang paling aku takuti di sebrang sana tertangkap oleh mataku. Akupun buru-buru menutup pintu jendela, kususul dengan merapatkan tirai. Sesaat setelah itu hujan dan petir bergumul memecah kesunyian. Kamarku sudah rapat kembali padahal angin malam belum menjawab pertanyaanku.


Aku masih dibuat heran oleh bisikan tadi. Benarkah? Benarkah ada ulat-ulat dalam hatiku? Benarkah mereka hidup subur di sana?


Sabtu sore, seperti biasa Abimanyu muncul lewat pintu belakang. Dia memang memegang kunci pintu belakang rumahku, sehingga tak perlu ada suara ribut bel dari depan rumah. Dia datang hanya dengan naik motor, sangat berbeda dengan kesehariannya ke kantor yang kudengar dari teman-teman arisan. Sangat berbeda. Dia bukan lelaki ramah dan setia seperti yang diceritakan istrinya. Karena terhadapku, dia bisa berubah menjadi batu yang dingin dan kuatnya melebihi tumpukan gunung es kutub. Dan sesaat kemudian bisa menjadi hangat yang nyamannya seperti saat menghisap candu. Selalu melayang dibuatnya dan bikin ketagihan.


Aku mulai dekat dengannya sejak masih SMA. Waktu itu, saat pulang sekolah, jam 3 sore ban motorku kempes di tengah jalan. Di bawah pohon dekat lapangan aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Dari sebrang jalan, seseorang datang. Kulihat dari jauh seragamnya sama seperti seragam yang kukenakan. Semakin mendekat aku semakin mengenali wajahnya. Dia bintang basket yang biasa diteriaki saat di lapangan dan dibicarakan teman-temanku saat jam jam kosong pelajaran. Motornya mendekat di sampingku. Setelah berhenti dan menanyakan apa yang terjadi ia menawarkan bantuan.


“Di depan sana ada bengkel pamanku, tapi hari ini tutup. Titipkan saja di sana dan kamu kuantar pulang. Besok biar ditambal dan sepulang sekolah kamu bisa mengambilnya.” Aku menurut saja karena itulah satu-satunya jalan keluar waktu itu. Ponselku mati dan aku sama sekali tak ingat nomor ibu ataupun ayahku.


Esok harinya, aku bertemu dengannya lagi di perpustakaan. Aku sudah berusaha menghindarinya begitu melihatnya. karena jika teman-teman melihat kami bertegur sapa, seluruh kelas akan heboh mempertanyakan apa perlunya dua orang lelaki dan perempuan yang bukan sekelas, bukan sekegiatan ekskul, dan tak berkepentingan terlihat saling menyapa apalagi dekat bersama. Sekolahku saat itu, seribet itu. Suka ribut mengurusi privasi orang. Apalagi kalau salah satu atau keduanya idola lokal. Dan pikiranku saat itu sudah parno, takut kalau dilabrak mantan pacarnya yang overprotectif-nya melebihi ibu tiri saat takut dan cari muka depan suami. Baik-baik jahat.


Aku menyelinap di rak paling sepi yang tak mungkin dilewatinya. Di bagian ensiklopedi, tapi akhirnya dia menangkapku juga.

“Hai.. ” Sapanya, dan hanya kubalas dengan sedikit senyuman.

“Nanti pulang ambil motormu jangan lupa, aku semalam ditelpon paman katanya sudah jadi.”

“Iya.. makasih ya?” Aku membalasnya.


Pulang sekolah, sialnya tanpa diberitahu sebelumnya, ekskul yang biasanya kuikuti, KIR (Karya Ilmiah Remaja) dimajukan hari itu juga. Sore itu aku harus hadir karena di pertemuan itu aku dapat jatah presentasi. Dan sialnya lagi ponselku ketinggalan. Baru ingat saat kegiatan selesai dan bagaimana aku pulang padahal sore hari angkot sudah tak ada yang lewat. Tapi lagi-lagi entah ini kebetulan atau bagaimana aku melihatnya lagi. Antara ingin memanggilnya dan tidak, dan aku tak punya keberanian nebeng lagi.


Aku terus saja berjalan melewatinya dari gerombolan tanpa menyapa. Lalu agak jauh berjalan, hampir 500m di trotoar dia menyusul dari belakang lalu melewatiku. Dan aku, lagi-lagi tak berani meminta bantuan sampai dia melintas jauh di depanku. 


Ya sudah. Jalan kaki sore itu kuterima saja. Tapi tiba-tiba, motornya memutar berbalik arah dan perlahan mendekatiku.

“Kenapa jalan?”

“Udah nggak ada angkot.”

“Ya udah ayo..” 

Seringai senang saat itu mungkin terlihat jelas di mukaku. Karena tidak jadi jalan kaki beberapa kilometer dan…….. ah, sudahlah. Aku kembali konsentrasi didudukanku kalau-kalau kelewat melayang dan jatuh dari boncengan.


Obrolan ringan saat itu melaju pelan bersama motornya. Tentang pertanyaan-pertanyaan kemarin yang belum terucap, dari nama, rumah, kelas berapa dan apa, sampai rencana setelah lulus beberapa bulan lagi mau ke mana, dan menjagokan negara mana untuk piala dunia tahun ini. Kami mungkin terdengar mudah akrab setelah obrolan itu, begitulah yang kurasakan. Hari selanjutnya, tak ada perubahan, dia sering hanya melihatku saat tiba-tiba bertemu denganku ketika makan di kantin bareng teman-temannya. 

Atau hanya diam lalu melirik sebentar saat aku perlahan mendekat untuk sekedar lewat depan gerombolan nongkrongnya. Tapi akan senyum ramah jika sedang kebetulan sendirian berpapasan denganku di perpustakaan atau dari dan ke kamar mandi. Sampai akhirnya dia menemukan akun facebookku dan meminta nomor ponsel lewat inbox. 


Selanjutnya setiap malam minggu dia datang ke rumahku, berdalih membawa buku paket matematika atau buku latihan soal SNMPTN untuk menanyakan soal sulit yang tak bisa ia selesaikan. Kedekatan yang perlahan dan semakin lekat walaupun masih seperti biasa, dia seperti tak mengenalku ketika berpapasan denganku dan teman-temannya. Hingga akhirnya, malam itu, menjelang pelepasan SMA dia mengajakku ke rumahnya. Ia bilang menyukaiku, akupun sama karena itu malam itu saat dia mengoyak kausku aku diam saja. Aku baru tahu kalau ternyata orang tuanya sedang tak di rumah pantas dia berani macam-macam. 


Saat itu dia juga bilang dia diterima kuliah di Ibu kota, sedangkan aku di Malang. Aku bisa apa ketika setelah itu kami tak bisa bertemu lagi? Di tahun pertama hubungan lewat ponsel dan internet tanpa kendala, tapi setelah itu aku mencoba mengerti kesibukan dan situasi kami. Aku paham bahwa di lingkungan lelaki yang hidup di kota orang tanpa orang tua, tak ada teman yang seperhatian teman wanita dekat. Saat dia sakit dan butuh teman jalan, setidaknya dia ada yang merawat dan tak akan kesepian. Karena itu aku mengerti ketika dia bilang punya teman wanita dekat di sana.


Sampai saat ini, dia telah menikah dengan wanita itu dan aku masih sendiri karena selalu mengingat liarnya dia  saat mengoyak-oyak bajuku. Kurasa saat itulah ulat-ulat itu pekerja. Menggerogoti hatiku hingga nyaris melupakan Tuhan. Sampai tak bisa membedakan apa dia benar menyukaiku apa hanya menuruti nafsunya. Mengabaikan kemungkinan wanita lain sakit hati karena kebersamaan kami.


Aku hampir saja mengambil pisau dapur dan mengeluarkan ulat-ulat yang memenuhi hatiku tapi mulai berfikir lagi apa benar ulat-ulat itu memang hanya membawa efek negatif? Jangan-jangan dia juga ikut membantu hatiku menyaring racun yang dibawa makananku? Kalau kuambil benarkah aku bisa tetap hidup? Jangan-jangan dia juga menelurkan nutrisi yang membuatku semangat bekerja. Dan jangan-jangan juga ulat-ulat ini yang memberiku efek positif karena selalu memahami keadaanya dan dengan sabar menunggunya. 

Bagus kan kalau aku tak pernah berfikir negative tentangnya? Aku jadi semakin bingung. Lalu kucari pencerahan dan bertanya pada Tuhan setiap malam. Tuhan benarkah suatu kesalahan kalau aku masih menyukai lelaki ini? Apa salah kalau tetap kupelihara ulat-ulat itu? Apa yang harus kulakukan? Apa pantas kalau kuminta kejelasan?


Aku sama sekali tak paham dengan alur pikiran lelaki, benar-benar tak mengerti apa yang dicari dalam diri seorang wanita. Apa artinya nafsu dan cinta  baginya? Aku ingin menghentikannya tapi aku menyukainya. Aku bisa saja memanggil tukang kunci untuk mengganti kunci pintu belakang rumah. Supaya dia tak punya kesempatan mengoyak-oyak bajuku lagi setiap kali singgah. Tapi bisa saja dia pindah lewat pintu depan rumah. Dia bisa mengetuk pintu depan rumah dan kalau tak kuat, aku bisa kapan saja membuka pintu untuknya. 


Sampai sore itu ketika dia datang aku memberanikan diri berkata.

“Aku mau pergi. Jangan kembali lagi ke rumah ini.”

“Kamu baik-baik saja kalau aku tak menemuimu?”


Aku hanya bisa diam, karena sebulan kemudian mungkin akan ada seratus lebih panggilan masuk di call register ponselnya. Ulat-ulat dalam hatiku yang membisikkan untuk tak merasa bersalah terhadap wanita itu. Membenarkan segala tindakan atas nama rindu. Air matapun seperti keluar dengan murahnya hanya karena rindu yang memuakkan.


Cinta, siapa yang akan menyalahkan kehadirannya? Saat labuh pada lelaki yang bahkan sekarang sudah beristri apa wanita itu akan menyalahkan pertemuan kami sebelum mereka menikah? Aku tak akan menyalahkan siapapun karena pertemuan mereka  memang sudah menjadi jalanNya. Jadi kurasa ketegasan ada di tanganku. Memanggil tukang kunci atau meninggalkan rumah ini.


“Jangan peduli panggilanku walau sampai seribu kali. Ulat-ulat itu bukan hanya tumbuh subur di sini, dia bahkan menggerogoti hatiku hampir separuh. Mengeluarkannya satu persatu adalah urusanku sendiri jadi aku akan mengurusnya.

“Kau sudah gila.”

“Kalau begitu tak selayaknya kauladeni orang gila.”

“Tapi aku menyukaimu.”

“Aku tak bisa apa-apa kalau kau mengucapkannya lagi. Jadi tolong diam saja. Tolong diam. Kumohon.”


Masih terasa, ulat-ulat itu menggeliat mungkin karena aku belum benar-benar pergi. Ulat-ulat itu melebarkan bara yang semakin lama semakin menganga yang setiap saat membuatku gelisah tak tenang. Seperti itukah penyakit hati?

***


Meliya Indri. Penikmat sastra dan budaya yang tinggal di Semarang.

Satu Guru Dan Dua Raja: Cerita Pendek Oleh Narudin

Written By radar indo on Sunday, April 13, 2014 | 9:56 PM

Ilustrasi:deesha-defharishtah
Dalam sebuah pesawat terbang menuju Kuala Lumpur, pipiku ditampar oleh seorang lelaki tambun yang duduk di sebelahku, bermata kuyu, berpipi tembam, dan berkepala gundul separuh—penumpang  yang duduk dekat jendela sedang tidur mendengkur, tak menghiraukan sekeliling dunia bahkan dirinya, kecuali barangkali mimpinya yang lilit-melilit bagaikan ular belang: putih, kuning, hitam, kecokelat-cokelatan! Lalu, ia menuding cuping hidungnya yang kemerahan seraya mengatur napasnya di udara.

“Aku Flaubert,” aku-nya langsung dan luhur.
“Aku bukan siapa-siapa.”
Mataku melotot, tapi tak berani balik menampar.
“Maksudmu?”
“Aku bukan siapa pun!”
“Eh, apa maksudmu?”
“Aku orang yang duduk di sisimu.”
“Hmm… apa kau seorang penyair?”
“Dari mana kau tahu aku seorang penyair?”
“Kata-katamu ekonomis, tapi berbelit-belit.”
“Kadang aku menulis cerita.”
“Kau kenal aku? Aku Flaubert, si pengarang itu.”
“Aku pernah mendengar namamu.”
“Bagus. Kalau begitu, setelah tiba di Kuala Lumpur, nanti ikut aku saja.”
“Lho, kan aku hendak menghadiri undangan International Conference 2013.”
“Aku lebih berharga daripada Konferensi Internasional itu. Percayalah. Bukankah kau ingin menjadi penulis hebat?”
“Ya… aku ingin menjadi penulis hebat.
Mataku masih melotot, tapi kali ini melotot yang bebal lagi sentimental.
Perfect!”

Begitu tiba di Kuala Lumpur, ia mengajakku ke sebuah hotel berbintang. Aku tak peduli lagi dengan Konferensi Internasional itu. Lampu-lampu di jalanan telah menyala. Debu-debu yang mengepul dari ban-ban mobil mulai kabur dari pandangan. Orang-orang berkulit kuning, sawo matang, putih, dan hitam berjalan, bergegas, setengah berlari, dan berlari-lari kecil. Menuju lubang hidupnya masing-masing. Beberapa orang di dalam sebuah restoran, tertawa lebar, mulutnya terbuka, sisa-sisa makanan tepercik dari rongga mulutnya. Tak seorang pun menyadari hal itu. Cincangan daging babi melumuri atas meja. Lampion-lampion dengan susunan derajat sinar terpasang hampir di setiap dinding. Kegaduhan merajai restoran sempit lagi pengap itu. Dua pelayan perempuan dengan gaun biru dan celemek putih tersenyum tidak simpul kepada para pengunjung rumah makan itu. Gigi-gigi pelayan perempuan itu kuning. Barangkali karena mereka terlampau banyak mencicipi masakan sehingga lupa menyikat gigi-giginya.
Ingatanku pun menguning. Pijar kesadaran warna kuning tua.[1]

Aku ditimpa kesialan. Flaubert tak mengajakku makan. Padahal, perutku lapar sekali. Saking laparnya, mungkin saja aku dapat memakan hidung dan kupingnya. Andai aku seorang kanibal…

Di kamar hotel, lampu redup. Seperti berada di pekuburan kala hari mendung. Flaubert merogoh satu botol air mineral dan roti sobek tak terbungkus plastik dari tas hitamnya. Ia mencatut satu batang rokok dengan telunjuk serta jari tengahnya, dan alat pemantik api dari balik saku kemeja hitamnya. Ia menyulut rokok, mengisapnya dalam-dalam, mengembuskan asap rokok itu ke wajahku, membuka segel botol air mineral, meneguknya tanpa ribut-ribut, menyobek roti, menyumpal mulutnya dengan sesobek roti, menyodorkan sisa sobekan roti cokelat-srikaya itu kepadaku. Lumeran srikayanya jatuh ke lantai. Aku? 

Aku hanya menggelengkan kepala. Simpel saja. Wajahnya merengut sebentar. Ia membanting badannya ke atas tempat tidur tanpa melepas sepatu kulit hitamnya. Kulihat sepatu kulit hitamnya kotor. Entah dari mana asal-muasal kotoran itu. Rokok dipadamkannya, ditekan ke atas seprai. Tekanan penuh perasaan! Pelan tapi pasti. Seprai itu jadi berlubang. Bau sangit sedikit terendus hidung kami. Ditambah bau ketiak berkeringatnya. Keringat bacin yang seharian tersangkut di jembut-jembut ketiaknya…

Mendadak Flaubert bangkit, lalu berdiri kukuh selama tiga menit, tergeming. Menunduk, menatap langit-langit kamar, duduk di atas sofa abu-abu. Dan, tak lama kemudian, sehabis menggoyang-goyangkan lidahnya di dalam mulutnya, ia tertidur pulas. Kuangkat alisku tinggi-tinggi. Keningku jadi keriput tiba-tiba, bukan karena keuzuran. Kurebahkan tubuh letihku di atas tempat tidur, tak lagi berpikir soal Konferensi Internasional, makan malam, bau badan belum mandi, tenggorkan kering butuh air—akhirnya, aku menyerah juga. Kuambil botol air mineral dari sisinya, kutenggak sampai tetes penghabisan. Aku tiba-tiba benci roti sesobek. Aku benci kamar hotel ini. Aku benci Flaubert—tapi kembali kutahan diri untuk kabur darinya. Bahkan aku benci diriku sendiri. 

Wajahku kutempelkan ke atas bantal, memandang wajah nyenyak Flaubert, lalu aku meratapi wajahku sendiri di depan cermin yang kebetulan berhadapan dengan posisi mukaku berbaring. Hampa malam, malam hampa… kutulis sebaris puisi dalam kepalaku, dan baris berikutnya… satu dendam, satu luka.

Pukul enam pagi. Aku masih tidur. Flaubert menampar pipiku. Kali ini lebih keras seperti tamparan istri kepada suami yang memuakkan. Wah, kulihat ia telah berpakaian rapi. Wangi pula. Sepatunya berkilat-kilat. Rambutnya berkilauan. Kucium parfumnya, harum parfum Deeper. Tapi, tak kulihat sesuatu yang “lebih dalam” dalam dirinya hingga saat ini. Setelah cuci muka, kau tahu, leherku terasa tercekik hantu cantik—aku belum minum air dengan baik. Malam tadi cuma minum dua atau tiga tegukan. Ia menarik tanganku ke luar hotel berbintang itu. Aku masih kelaparan…

Flaubert berlari, terus berlari. Langkahku tersandung-sandung, mengikutinya dari belakang. Seperti kerbau dicocok hidung. Kami berhenti di dekat selokan tak berair. Kedua pinggir selokan itu diapit tembok bersemen. Seolah-olah tembok-tembok itu menyemen diriku. Dengan jemu tak jemu, kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Ke orang-orang. Wajah-wajah mereka hampir-hampir tak ada yang menyimpan ketakutan. Lain halnya dengan wajah diriku  yang kini tengah diterpa kegalauan. Kupandang cakrawala. Tak ada sedikit pun awan. Matahari begitu menyilaukan. Kuusir cahaya matahari itu dengan telapak tangan. Perjuangan sia-sia. 

“Sampai di sini saja perjumpaan kita, Tuan Bukan Siapa Pun!”
“Lho, hanya segitu? Katanya mau mengajari saya menulis yang hebat?”
Mataku melotot sungguhan kali ini.
“Kuamati kau bukan seorang yang penyabar. Selamat tinggal.”
“Eit, tunggu dulu, kok, selamat tinggal.”
“Ambil kartu nama ini. Sekali lagi, selamat tinggal.”
Kuperiksa kartu nama itu, tertulis nama Chekhov, nomor telepon (022) 212-323-434. Oh…
Begitu aku menoleh, ternyata Flaubert telah disedot ketiadaan.
Kususuri alamat yang tertera di kartu nama itu. Mana mungkin Chekhov ada di Bandung hari ini! Sampai kiamat pun mustahil, racau benakku.
Di sebuah mal besar. Di hadapan meja bundar bercorak bunga sakura. Kaki-kaki Chekhov bersilang di atas meja. Tak merokok. Dia tak ingin penyakit TBC-nya kambuh. Tak ada makanan dan minuman di atas meja. Tak ada apa-apa, selain kacamata hitam tergolek.
“Kenalkan aku adalah… oya, ikut aku sekarang. Ke mana pun aku… pergi.”
“Aku ingin belajar menulis… kata Flaubert….”
“Ikut… aku.”

Ia bangun, menghentikan sebuah taksi yang lewat, masuk ke dalam taksi. Sama halnya, aku telah duduk di sebelahnya. Mal, orang-orang, makanan, minuman—perempuan-perempuan yang dandan melewati batas kewajaran—sertapelbagai kenangan tertinggal di belakang taksi. Setengah jam kemudian, taksi berhenti di sebuah hotel, di sebuah jalan yang berpohon rindang. Aku hafal nama jalan ini. Aku pernah masuk ke salah satu hotelnya. Di dalam hotel, kami duduk di sebuah restoran; seorang pelayan laki-laki membawa secangkir teh tarik malaysia dan semangkuk sup jagung. Ya… sial, sekadar semangkuk sup… jagung. Belum dipesan sudah datang.
“Makanlah dan minumlah.”

Aku langsung makan dan minum dengan rakus. Padahal, sebelumnya aku telah makan nasi dan ayam goreng krispi setiba di Jakarta.
Kemudian, kami naik ke lantai sekian. Ke dalam sebuah kamar remang-remang. Di dekat balkon, seekor burung pipit mengerjapkan sayap-sayapnya dari pagar besi agak berkarat, menuju langit senja. 

Chekhov memadamkan lampu kamar. Suasana tampak hitam. Ia menyalakan lampu. Kulihat jas dan dasinya telah terlepas. Kemejanya telah terlepas. Celana katunnya telah terlepas. Sepatu kulit bertalinya telah terlepas. Kaus dalamnya telah terlepas. Tinggal celana pendek  berbunganya yang masih dikenakannya. Ia duduk di atas tempat tidur, meluruskan lututnya, memandang kedua bola mataku dalam-dalam.
“Buka pakaianmu, buka sepatumu, simpan tasmu di atas sofa. Dan mendekatlah… ke sini….”
Lambaian tangannya menggodaku. Aku menuruti perintahnya, mencopot sepatu dan meletakkannya di sembarang tempat, menaruh tas, serta membuka pakaianku—kemeja kotak-kotak pendekku—kemeja tak berkancing pada sakunya. Kemeja bersaku berkancing selalu merepotkanku ketika aku hendak merogoh permen susu jepang.

Ia masih mengamati kedua belah mataku lekat-lekat seperti hendak menelan bola-bolanya. Tak lama kemudian, ia memadamkan lampu kamar (kamar menjadi pekat), menyuruhku tidur segera, dan berbisik lirih, “Selamat malam. Selamat tidur, Tuan Bukan Siapa-siapa!”
“Selamat….”
Aku bengong. Seekor nyamuk masuk ke dalam mulutku yang menganga. Ah, kamar hotel yang tak resik, pikirku.
“… malam.”

Aku tampaknya sukar tidur. Aku menulis puisi panjang dalam kepalaku. Puisi tanpa kata.
Esok matahari masih terbit. Alam bergerak seperti tangan-tangan bayi baru lahir. Ternoda oleh segala kegiatan manusia yang tak dapat dikatakan seluruhnya baik meskipun Tuhan menyuruh kita berbuat yang bagus-bagus.

Di depan hotel, taksi telah menunggu kami. Ia memberikan secarik kartu nama. Tertulis nama Maupassant. Telepon (021) 333 444 555. Dan alamat yang belum kukenal di Jakarta.
“Selamat tinggal. Temui orang ini.”
“Lho, kau belum mengajariku menulis yang hebat.”
“Kau mudah putus asa.”
“Apa?”
Taksi melaju cepat. Menuju… ke depan.
Aku semakin penasaran. Pada hari itu juga aku berangkat ke Jakarta. Perjalanan di dalam kereta tak kunikmati. Pemandangan bukan lagi pemandangan kalau tak diberi harga pas.
“Apa kau yang bernama Maupassant?”
Ia tak menjawab.
Malah berujar, “Turuti aku. Ke mana saja kakiku melangkah.”
Wajahnya berkulit putih. Kumisnya melengkung seperti bulan sabit kesiangan. Tatapan matanya seakan-akan tahu segala titik rawan kehidupan dan kematian. Lehernya kokoh seperti leher banteng. Banteng yang kenyang betina. Di atas rerumputan…

Seorang lelaki cebol, bermata kecil, berhidung penyek, bertelinga mungil, dan berkepala besar menjemput kami. Di dalam mobil itu kami tak berbicara. Maksudku, aku tak berani memulai obrolan. Aku ingin menjadi murid yang baik, menunggu titah dari sang guru. Sang guru itu menoleh asal-asalan, “Kau mau menjadi penulis hebat?”
“Benar, Sang Guru.”
“Mari turun. Lewat sini.”
Di depan sebuah hotel, kami turun. Ah, hotel lagi, hotel lagi…. Kami naik ke lantai teratas. Maupassant tak melepas apa-apa. Tak menaruh apa-apa. Dan tak melakukan apa-apa, kecuali memandang jauh ke luar jendela, melihat-lihat tamasya angkasa raya di luar. 

Bagiku, ia terasa hilang di dekatku. Aku bengong mengamati sosoknya yang tinggi besar. Rambutnya ikal pendek, mencengkeram kepalanya. Ia terbatuk kecil, lalu dengan isyarat matanya memanggiku agar mendekat. Lebih rapat. Dan ia menunjuk segaris awan tipis serta setitik bayang kupu-kupu di kejauhan. Ia tersenyum sendiri. Aku? Perutku mulas seperti diremas-remas. Aku memohon diri ke toilet. Selesai membuang hajat—hajat besar sekaligus hajat kecil—kuperhatikan  ia masih duduk di dekat jendela kamar hotel, memandang ke luar jendela.

Aku berjalan hilir-mudik di dalam kamar. Duduk, tertidur, bangun lagi, duduk, ke toilet lagi, membuang air kecil… saja, dan ternyata, ia masih duduk di dekat jendela, memandang ke luar. Posisinya seperti semula. Tak terjadi perubahan yang signifikan.

“Tuan Maupassant, aku ingin belajar menulis yang hebat!”
Teriakku membelah kamar—dari mana kekuatan suaraku itu berasal?
Ia menoleh dengan jenuh, berjalan pelan, mengambil sebuah pistol dari dalam laci meja, dan memberikan pistol itu kepadaku.
“Tembak hatimu sekarang juga.”
“Apa? Tembak jantungku?”
“Hatimu!”
“Bagaimana mungkin? Aku akan mati! Aku takkan jadi belajar menulis kepadamu.”
“Tembak, tembak, tembak… kau dengar?”
“Aku takut.”
“Takut? Baik, kita keluar, ke jalan aspal. Simpan pistol itu. Mari.”
Di jalan aspal. Di atas sana, petang semakin membayang. Di bawah sini, jalan aspal tampak gersang.

Kami berdiri, sepasang manusia, sepasang lelaki yang tengah mempertaruhkan diri sejati.
Lampu mulai menyala di jalanan—tak ada orang satu pun di sana. Kecuali mobil-mobil diparkir berderet-deret. Ruko-ruko terutup rapat-rapat. Angin berembus cepat lalu minggat.

“Sekarang, seret wajahmu ke atas aspal ini.”
“Apa? Kau ingin meremukkan mukaku? Sebetulnya kau ini siapa, eh?”
“Sudahlah kalau kau tak mau. Sebaiknya kau bertanya kenapa aku menyuruhmu menembak hatimu dan menyeret wajahmu ke atas aspal ini.”
“Lho, jadi…?”
“Saatnya kita berpisah. Ambil kartu nama ini. Selamat tinggal.”
Maupassant lenyap ditelan ketiadaan.
“Selamat ting… tapi, tapi, yah… gal. Sesingkat ini?”
Kartu nama itu tak bernama, tak bernomor telepon, dan tak beralamat.
Aku dihantui rasa ingin tahu sampai mati.


[1] Diambil dari puisi Iwan Simatupang, berjudul “Kesadaran Kuning Tua”, bait ke-3, baris ke-3, dalam buku puisi Ziarah Malam, Jakarta: Grasindo, 1993, halaman 36.


Narudin lahir di Subang, 15 Oktober 1982. Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 2006. Pernah mengajar di Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta, ARS International School, dan UPI Bandung. Sejak SMU, drama-drama berbahasa Inggrisnya pernah meraih beberapa penghargaan tingkat Jawa Barat. Pada 2007, tercatat menjadi salah satu pemenang Duta Bahasa Jawa Barat di Balai Bahasa Bandung. Tulisannya berupa puisi, cerpen, esai, dan terjemahan dimuat di media massa dan majalah seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Qalam, Majalah Bong-Ang, Koran Pikiran Rakyat, Koran Seputar Indonesia, Koran Sinar Harapan, Percikan Iman, Pikiran Rakyat Online, Sastra Digital, Radar Indo, jurnalsajak.com, dan lain-lain. Puisi-puisinya

 
Support : Radar URL Stats ONLINE | Radar Flag Counter | twitter:@radar_indonesia
Copyright © 2013. Radar Indonesia News - All Rights Reserved
Template Created by radar-indo.com Published by radar-indo.com
Proudly powered by radar-indo.com