Latest Post
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Satu Guru Dan Dua Raja: Cerita Pendek Oleh Narudin

Written By radar indo on Sunday, April 13, 2014 | 9:56 PM

Ilustrasi:deesha-defharishtah
Dalam sebuah pesawat terbang menuju Kuala Lumpur, pipiku ditampar oleh seorang lelaki tambun yang duduk di sebelahku, bermata kuyu, berpipi tembam, dan berkepala gundul separuh—penumpang  yang duduk dekat jendela sedang tidur mendengkur, tak menghiraukan sekeliling dunia bahkan dirinya, kecuali barangkali mimpinya yang lilit-melilit bagaikan ular belang: putih, kuning, hitam, kecokelat-cokelatan! Lalu, ia menuding cuping hidungnya yang kemerahan seraya mengatur napasnya di udara.

“Aku Flaubert,” aku-nya langsung dan luhur.
“Aku bukan siapa-siapa.”
Mataku melotot, tapi tak berani balik menampar.
“Maksudmu?”
“Aku bukan siapa pun!”
“Eh, apa maksudmu?”
“Aku orang yang duduk di sisimu.”
“Hmm… apa kau seorang penyair?”
“Dari mana kau tahu aku seorang penyair?”
“Kata-katamu ekonomis, tapi berbelit-belit.”
“Kadang aku menulis cerita.”
“Kau kenal aku? Aku Flaubert, si pengarang itu.”
“Aku pernah mendengar namamu.”
“Bagus. Kalau begitu, setelah tiba di Kuala Lumpur, nanti ikut aku saja.”
“Lho, kan aku hendak menghadiri undangan International Conference 2013.”
“Aku lebih berharga daripada Konferensi Internasional itu. Percayalah. Bukankah kau ingin menjadi penulis hebat?”
“Ya… aku ingin menjadi penulis hebat.
Mataku masih melotot, tapi kali ini melotot yang bebal lagi sentimental.
Perfect!”

Begitu tiba di Kuala Lumpur, ia mengajakku ke sebuah hotel berbintang. Aku tak peduli lagi dengan Konferensi Internasional itu. Lampu-lampu di jalanan telah menyala. Debu-debu yang mengepul dari ban-ban mobil mulai kabur dari pandangan. Orang-orang berkulit kuning, sawo matang, putih, dan hitam berjalan, bergegas, setengah berlari, dan berlari-lari kecil. Menuju lubang hidupnya masing-masing. Beberapa orang di dalam sebuah restoran, tertawa lebar, mulutnya terbuka, sisa-sisa makanan tepercik dari rongga mulutnya. Tak seorang pun menyadari hal itu. Cincangan daging babi melumuri atas meja. Lampion-lampion dengan susunan derajat sinar terpasang hampir di setiap dinding. Kegaduhan merajai restoran sempit lagi pengap itu. Dua pelayan perempuan dengan gaun biru dan celemek putih tersenyum tidak simpul kepada para pengunjung rumah makan itu. Gigi-gigi pelayan perempuan itu kuning. Barangkali karena mereka terlampau banyak mencicipi masakan sehingga lupa menyikat gigi-giginya.
Ingatanku pun menguning. Pijar kesadaran warna kuning tua.[1]

Aku ditimpa kesialan. Flaubert tak mengajakku makan. Padahal, perutku lapar sekali. Saking laparnya, mungkin saja aku dapat memakan hidung dan kupingnya. Andai aku seorang kanibal…

Di kamar hotel, lampu redup. Seperti berada di pekuburan kala hari mendung. Flaubert merogoh satu botol air mineral dan roti sobek tak terbungkus plastik dari tas hitamnya. Ia mencatut satu batang rokok dengan telunjuk serta jari tengahnya, dan alat pemantik api dari balik saku kemeja hitamnya. Ia menyulut rokok, mengisapnya dalam-dalam, mengembuskan asap rokok itu ke wajahku, membuka segel botol air mineral, meneguknya tanpa ribut-ribut, menyobek roti, menyumpal mulutnya dengan sesobek roti, menyodorkan sisa sobekan roti cokelat-srikaya itu kepadaku. Lumeran srikayanya jatuh ke lantai. Aku? 

Aku hanya menggelengkan kepala. Simpel saja. Wajahnya merengut sebentar. Ia membanting badannya ke atas tempat tidur tanpa melepas sepatu kulit hitamnya. Kulihat sepatu kulit hitamnya kotor. Entah dari mana asal-muasal kotoran itu. Rokok dipadamkannya, ditekan ke atas seprai. Tekanan penuh perasaan! Pelan tapi pasti. Seprai itu jadi berlubang. Bau sangit sedikit terendus hidung kami. Ditambah bau ketiak berkeringatnya. Keringat bacin yang seharian tersangkut di jembut-jembut ketiaknya…

Mendadak Flaubert bangkit, lalu berdiri kukuh selama tiga menit, tergeming. Menunduk, menatap langit-langit kamar, duduk di atas sofa abu-abu. Dan, tak lama kemudian, sehabis menggoyang-goyangkan lidahnya di dalam mulutnya, ia tertidur pulas. Kuangkat alisku tinggi-tinggi. Keningku jadi keriput tiba-tiba, bukan karena keuzuran. Kurebahkan tubuh letihku di atas tempat tidur, tak lagi berpikir soal Konferensi Internasional, makan malam, bau badan belum mandi, tenggorkan kering butuh air—akhirnya, aku menyerah juga. Kuambil botol air mineral dari sisinya, kutenggak sampai tetes penghabisan. Aku tiba-tiba benci roti sesobek. Aku benci kamar hotel ini. Aku benci Flaubert—tapi kembali kutahan diri untuk kabur darinya. Bahkan aku benci diriku sendiri. 

Wajahku kutempelkan ke atas bantal, memandang wajah nyenyak Flaubert, lalu aku meratapi wajahku sendiri di depan cermin yang kebetulan berhadapan dengan posisi mukaku berbaring. Hampa malam, malam hampa… kutulis sebaris puisi dalam kepalaku, dan baris berikutnya… satu dendam, satu luka.

Pukul enam pagi. Aku masih tidur. Flaubert menampar pipiku. Kali ini lebih keras seperti tamparan istri kepada suami yang memuakkan. Wah, kulihat ia telah berpakaian rapi. Wangi pula. Sepatunya berkilat-kilat. Rambutnya berkilauan. Kucium parfumnya, harum parfum Deeper. Tapi, tak kulihat sesuatu yang “lebih dalam” dalam dirinya hingga saat ini. Setelah cuci muka, kau tahu, leherku terasa tercekik hantu cantik—aku belum minum air dengan baik. Malam tadi cuma minum dua atau tiga tegukan. Ia menarik tanganku ke luar hotel berbintang itu. Aku masih kelaparan…

Flaubert berlari, terus berlari. Langkahku tersandung-sandung, mengikutinya dari belakang. Seperti kerbau dicocok hidung. Kami berhenti di dekat selokan tak berair. Kedua pinggir selokan itu diapit tembok bersemen. Seolah-olah tembok-tembok itu menyemen diriku. Dengan jemu tak jemu, kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Ke orang-orang. Wajah-wajah mereka hampir-hampir tak ada yang menyimpan ketakutan. Lain halnya dengan wajah diriku  yang kini tengah diterpa kegalauan. Kupandang cakrawala. Tak ada sedikit pun awan. Matahari begitu menyilaukan. Kuusir cahaya matahari itu dengan telapak tangan. Perjuangan sia-sia. 

“Sampai di sini saja perjumpaan kita, Tuan Bukan Siapa Pun!”
“Lho, hanya segitu? Katanya mau mengajari saya menulis yang hebat?”
Mataku melotot sungguhan kali ini.
“Kuamati kau bukan seorang yang penyabar. Selamat tinggal.”
“Eit, tunggu dulu, kok, selamat tinggal.”
“Ambil kartu nama ini. Sekali lagi, selamat tinggal.”
Kuperiksa kartu nama itu, tertulis nama Chekhov, nomor telepon (022) 212-323-434. Oh…
Begitu aku menoleh, ternyata Flaubert telah disedot ketiadaan.
Kususuri alamat yang tertera di kartu nama itu. Mana mungkin Chekhov ada di Bandung hari ini! Sampai kiamat pun mustahil, racau benakku.
Di sebuah mal besar. Di hadapan meja bundar bercorak bunga sakura. Kaki-kaki Chekhov bersilang di atas meja. Tak merokok. Dia tak ingin penyakit TBC-nya kambuh. Tak ada makanan dan minuman di atas meja. Tak ada apa-apa, selain kacamata hitam tergolek.
“Kenalkan aku adalah… oya, ikut aku sekarang. Ke mana pun aku… pergi.”
“Aku ingin belajar menulis… kata Flaubert….”
“Ikut… aku.”

Ia bangun, menghentikan sebuah taksi yang lewat, masuk ke dalam taksi. Sama halnya, aku telah duduk di sebelahnya. Mal, orang-orang, makanan, minuman—perempuan-perempuan yang dandan melewati batas kewajaran—sertapelbagai kenangan tertinggal di belakang taksi. Setengah jam kemudian, taksi berhenti di sebuah hotel, di sebuah jalan yang berpohon rindang. Aku hafal nama jalan ini. Aku pernah masuk ke salah satu hotelnya. Di dalam hotel, kami duduk di sebuah restoran; seorang pelayan laki-laki membawa secangkir teh tarik malaysia dan semangkuk sup jagung. Ya… sial, sekadar semangkuk sup… jagung. Belum dipesan sudah datang.
“Makanlah dan minumlah.”

Aku langsung makan dan minum dengan rakus. Padahal, sebelumnya aku telah makan nasi dan ayam goreng krispi setiba di Jakarta.
Kemudian, kami naik ke lantai sekian. Ke dalam sebuah kamar remang-remang. Di dekat balkon, seekor burung pipit mengerjapkan sayap-sayapnya dari pagar besi agak berkarat, menuju langit senja. 

Chekhov memadamkan lampu kamar. Suasana tampak hitam. Ia menyalakan lampu. Kulihat jas dan dasinya telah terlepas. Kemejanya telah terlepas. Celana katunnya telah terlepas. Sepatu kulit bertalinya telah terlepas. Kaus dalamnya telah terlepas. Tinggal celana pendek  berbunganya yang masih dikenakannya. Ia duduk di atas tempat tidur, meluruskan lututnya, memandang kedua bola mataku dalam-dalam.
“Buka pakaianmu, buka sepatumu, simpan tasmu di atas sofa. Dan mendekatlah… ke sini….”
Lambaian tangannya menggodaku. Aku menuruti perintahnya, mencopot sepatu dan meletakkannya di sembarang tempat, menaruh tas, serta membuka pakaianku—kemeja kotak-kotak pendekku—kemeja tak berkancing pada sakunya. Kemeja bersaku berkancing selalu merepotkanku ketika aku hendak merogoh permen susu jepang.

Ia masih mengamati kedua belah mataku lekat-lekat seperti hendak menelan bola-bolanya. Tak lama kemudian, ia memadamkan lampu kamar (kamar menjadi pekat), menyuruhku tidur segera, dan berbisik lirih, “Selamat malam. Selamat tidur, Tuan Bukan Siapa-siapa!”
“Selamat….”
Aku bengong. Seekor nyamuk masuk ke dalam mulutku yang menganga. Ah, kamar hotel yang tak resik, pikirku.
“… malam.”

Aku tampaknya sukar tidur. Aku menulis puisi panjang dalam kepalaku. Puisi tanpa kata.
Esok matahari masih terbit. Alam bergerak seperti tangan-tangan bayi baru lahir. Ternoda oleh segala kegiatan manusia yang tak dapat dikatakan seluruhnya baik meskipun Tuhan menyuruh kita berbuat yang bagus-bagus.

Di depan hotel, taksi telah menunggu kami. Ia memberikan secarik kartu nama. Tertulis nama Maupassant. Telepon (021) 333 444 555. Dan alamat yang belum kukenal di Jakarta.
“Selamat tinggal. Temui orang ini.”
“Lho, kau belum mengajariku menulis yang hebat.”
“Kau mudah putus asa.”
“Apa?”
Taksi melaju cepat. Menuju… ke depan.
Aku semakin penasaran. Pada hari itu juga aku berangkat ke Jakarta. Perjalanan di dalam kereta tak kunikmati. Pemandangan bukan lagi pemandangan kalau tak diberi harga pas.
“Apa kau yang bernama Maupassant?”
Ia tak menjawab.
Malah berujar, “Turuti aku. Ke mana saja kakiku melangkah.”
Wajahnya berkulit putih. Kumisnya melengkung seperti bulan sabit kesiangan. Tatapan matanya seakan-akan tahu segala titik rawan kehidupan dan kematian. Lehernya kokoh seperti leher banteng. Banteng yang kenyang betina. Di atas rerumputan…

Seorang lelaki cebol, bermata kecil, berhidung penyek, bertelinga mungil, dan berkepala besar menjemput kami. Di dalam mobil itu kami tak berbicara. Maksudku, aku tak berani memulai obrolan. Aku ingin menjadi murid yang baik, menunggu titah dari sang guru. Sang guru itu menoleh asal-asalan, “Kau mau menjadi penulis hebat?”
“Benar, Sang Guru.”
“Mari turun. Lewat sini.”
Di depan sebuah hotel, kami turun. Ah, hotel lagi, hotel lagi…. Kami naik ke lantai teratas. Maupassant tak melepas apa-apa. Tak menaruh apa-apa. Dan tak melakukan apa-apa, kecuali memandang jauh ke luar jendela, melihat-lihat tamasya angkasa raya di luar. 

Bagiku, ia terasa hilang di dekatku. Aku bengong mengamati sosoknya yang tinggi besar. Rambutnya ikal pendek, mencengkeram kepalanya. Ia terbatuk kecil, lalu dengan isyarat matanya memanggiku agar mendekat. Lebih rapat. Dan ia menunjuk segaris awan tipis serta setitik bayang kupu-kupu di kejauhan. Ia tersenyum sendiri. Aku? Perutku mulas seperti diremas-remas. Aku memohon diri ke toilet. Selesai membuang hajat—hajat besar sekaligus hajat kecil—kuperhatikan  ia masih duduk di dekat jendela kamar hotel, memandang ke luar jendela.

Aku berjalan hilir-mudik di dalam kamar. Duduk, tertidur, bangun lagi, duduk, ke toilet lagi, membuang air kecil… saja, dan ternyata, ia masih duduk di dekat jendela, memandang ke luar. Posisinya seperti semula. Tak terjadi perubahan yang signifikan.

“Tuan Maupassant, aku ingin belajar menulis yang hebat!”
Teriakku membelah kamar—dari mana kekuatan suaraku itu berasal?
Ia menoleh dengan jenuh, berjalan pelan, mengambil sebuah pistol dari dalam laci meja, dan memberikan pistol itu kepadaku.
“Tembak hatimu sekarang juga.”
“Apa? Tembak jantungku?”
“Hatimu!”
“Bagaimana mungkin? Aku akan mati! Aku takkan jadi belajar menulis kepadamu.”
“Tembak, tembak, tembak… kau dengar?”
“Aku takut.”
“Takut? Baik, kita keluar, ke jalan aspal. Simpan pistol itu. Mari.”
Di jalan aspal. Di atas sana, petang semakin membayang. Di bawah sini, jalan aspal tampak gersang.

Kami berdiri, sepasang manusia, sepasang lelaki yang tengah mempertaruhkan diri sejati.
Lampu mulai menyala di jalanan—tak ada orang satu pun di sana. Kecuali mobil-mobil diparkir berderet-deret. Ruko-ruko terutup rapat-rapat. Angin berembus cepat lalu minggat.

“Sekarang, seret wajahmu ke atas aspal ini.”
“Apa? Kau ingin meremukkan mukaku? Sebetulnya kau ini siapa, eh?”
“Sudahlah kalau kau tak mau. Sebaiknya kau bertanya kenapa aku menyuruhmu menembak hatimu dan menyeret wajahmu ke atas aspal ini.”
“Lho, jadi…?”
“Saatnya kita berpisah. Ambil kartu nama ini. Selamat tinggal.”
Maupassant lenyap ditelan ketiadaan.
“Selamat ting… tapi, tapi, yah… gal. Sesingkat ini?”
Kartu nama itu tak bernama, tak bernomor telepon, dan tak beralamat.
Aku dihantui rasa ingin tahu sampai mati.


[1] Diambil dari puisi Iwan Simatupang, berjudul “Kesadaran Kuning Tua”, bait ke-3, baris ke-3, dalam buku puisi Ziarah Malam, Jakarta: Grasindo, 1993, halaman 36.


Narudin lahir di Subang, 15 Oktober 1982. Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 2006. Pernah mengajar di Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta, ARS International School, dan UPI Bandung. Sejak SMU, drama-drama berbahasa Inggrisnya pernah meraih beberapa penghargaan tingkat Jawa Barat. Pada 2007, tercatat menjadi salah satu pemenang Duta Bahasa Jawa Barat di Balai Bahasa Bandung. Tulisannya berupa puisi, cerpen, esai, dan terjemahan dimuat di media massa dan majalah seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Qalam, Majalah Bong-Ang, Koran Pikiran Rakyat, Koran Seputar Indonesia, Koran Sinar Harapan, Percikan Iman, Pikiran Rakyat Online, Sastra Digital, Radar Indo, jurnalsajak.com, dan lain-lain. Puisi-puisinya

Rouble Heart Part 11" Kona Yuki

Written By radar indo on Sunday, March 2, 2014 | 8:18 AM

Kona Yuki, Penulis
Ini dimana? Ugh…. Apakah ini pagi? Aku malas sekali bangun, pasti manajer Jung akan menarikku sebeantar lagi dan menyuruhku untuk segara bersiap dan memulai hari dengan seabrek kegiatan yang berat. Aku sudah lelah dengan hidup yang sangat padat. Bisakah aku berhenti sejenak disini?. Ah, aku ingin tidur sebentar lagi… ah apa ini? belaian lembut dari siapa ini? apa aku tidak sadarkan diri lagi? apa aku tidak sadar telah melakukan hal bodoh dengan wanita asing yang aku temui di pub? Aku tidak ingin seperti ini, cukup sekali aku bangun pagi di tempat asing dan mendapati diriku dengan bentuk yang paling aku tidak inginkan.

Apa ini? siapa yang berani menggelitikku pagi-pagi? Apa dia tidak tahu kulitku sangat sensitive menerima rangsangan sekecil apapun. Bahkan bulu-bulu halus dari bantal pun bisa membuatku terjaga. Siapa dia ini? beraninya dia melingkarkan tangannya di tubuhku. Tapi tangannya kecil sekali, putih dan halus, mungkin aku akan meremukkan tulangnya jika aku tidak hati-hati memegang tangan ini. seperti seorang peri yang lemah, apa aku mengenalnya? Kenapa dia tidur memelukku dengan erat. Pipinya menyentuh punggungku dengan lembut, bolehkah aku melihatnya? Setidaknya kali ini aku harus tahu apa yang terjadi denganku semalam. Aku tidak ingin lagi lupa denga apa yang telah aku lakukan semalam walau pun itu kelakuan buruk walau aku melupakannya setidaknya seseorang yang berada di belakangku bisa menjelaskannya. Tapi aku bisa menerima kalau dia bukan seorang wanita? Atau wajahnya tidak cantik bahkan dia kehilangan sesuatu di mukanya? Bagaimana ini? apa aku mampu menerima semua kemungkinan buruk?. Ah aku tidak peduli,paling tidak aku bisa bertanggung jawab atas kesalahanku.

Bisakah aku berbalik sekarang? Aku sangat percaya dia tidak seburuk yang dibayangkan.. dan seandainya dia menjadi jodohku, toh operasi kecantikan sekarang sudah sangat canggih, dia bisa aku buat secantik mungkin. Bagaimana denagn skandal yang akan terkuak? Aku sudah tidak perduli lagi, aku sudah cukup lelah dengan semua itu, setidaknya aku bisa istirahat bila skandal itu keluar. Aku bisa bermain dan bersenang-senang tanpa harus mengkhawan jadwal padat yang memuakkan.

Aku sudah siap! Oh.. wajahnya tertutup dengan rambut yang terurai. Lembut yang aku rasakan saat menyentuhnya. Aku menyukai gadis yang rambutnya panjang dan terurai, aku bisa membelainya hingga keujung rambut. Aku coba sibakkan sedikit rambut yang menutupi wajahnya. Dia terlihat sangat mungil, dan lemah hingga membuatku sangt berhati-hati menyentuhnya. Oh My God… dia sangat cantik, bahkan aku tidak pernah membayangkan bakal secantik ini. aku sangat merasa malu karena sempat membayangkan hal yang paling buruk terjadi padaku. Tapi, sepertinya aku mengenal paras ini. Aku tidak asing karenanya, sepertinya aku familiar dengan muka ini. tapi siapa? Ah… Park Seo Yeon?! Mana mungkin ini terjadi? Ini tidak mungkin…ini TIDAK MUNGKIN!!!!!!!

“ANDWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!” Shin terjaga dari tidurnya, nafasnya tersengal tak beraturan. Dengan cepat dia mencoba menyadarkan diri dan melihat ke sekeliling kamarnya.

Beruntung dia tidak berada dalam kamar orang lain lagi, dia melirik ke jam yang berada disampingnya, masih jam tiga pagi pikirnya. Sesaat dia menyentuh kasur kosong yang berada disampingnya, yah dia menyadari bahwa yang barusan itu mimpi. 

Dia tidak dapat tidur lagi sekarangn setelah terjaga dari mimpinya. Bayangan mimpi aneh itu terus menghantuinya dan menjadi pikiran dalam dirinya. Bagaimana mungkin pengarang Park bisa masuk kedalam mimpi yang memalukan itu, kenapa tidak Min Ah kekasih yang dia idam-idamkan selama ini. Shin berusaha berpikir positif. Mungkin saja itu terjadui karena dia terlalu bersalah dengan pengarang Park karena telah mengganggu hidupnya. Apa aku harus minta maaf dengan gadis itu? Ah Shin menghela nafasnya lagi, mungkin benar dia harus mengunjungi pengarang Park Seo Yeon dan meminta maaf atas kesalahannya selama ini. sekarang dia harus menunggu pagi dan menjalankan niatnya.

***
Yeon duduk termangu di pintu yang menghadap beranda dan menikmati semilir angin pagi yang masuk melalui cela pintu yang terbuka sedikit. Sesekali Tama menyapa majikannya dan mengeluskan bulu halusnya yang putih di kaki majikannya untuk mencari perhatian Yeon. Mungkin Tama tahu kegundahan hati majikannya hingga tidak dapat tidur dari semalam. Walau Yeon mencoba membaringkan tubuhnya dan berusaha tidur, tapi bayang-bayang kejadian saat dengan Shin timbul dan mendesak kedalam beanknya. Sebenarnya Yeon mulai melupakannya karena dia jarang bertemu dengan Shin, tapi saat pertemuan terakhir kali di stasiun TV malah membuat dirinya mengingat kembali kejadian pada malam itu.

Malam terkutuk bagi Yeon karena sebuah yang berharga telah menghilang darinya karena kebodohan dirinya sendiri. Entah apa yang merasukinya pada hari itu hingga dia bisa melakukannya dengan Shin. Dia hanya mengingat memory sebelum kejadian itu terjadi. Di mana Shin datang dan mencoba bernegosiasi dengannya untuk drama itu dan entah siapa yang memulai duluan hingga mereka minum bersama pada sebuah pub dan berkaraoke hingga kembali kerumah yeon dan ah…. Yeon memukuli kepalanya dengan keras, setiap dia memikirkan memory yang samar itu menjadi jelas di kepalanya dan semakin jelas hingga dia menjadi membenci dirinya sendiri.

Triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing Ponsel yeon berbunyi dengan keras membuat yeon terkejut. Diliriknya layar LCD ponselnya dan tertera nama sahabatnya satu-satunya. Dia awalnya ragu utuk menganggkat, karena HA Eun pasti tahu kalau dia sedang galau dan membuat anak itu dengan kecepatan super meluncur ke rumahnya karena khawatir. Tapi Yeon berpikir lagi, mungkin ada baiknya Ha in datang ker umah dan menceritakan kegundahan hatinya. Paling tidak dia bias sedikit lega dan mengurangi beban di hatinya.

“Hm.. Ada apa?” Yeon mengangkat dengan nada malas.

“Kau kenapa? Suaramu seperti orang yang tidak semangat? Apa kamu sakit? Aku kerumahmu ya sekarang?” Benar dugaan Yeon, suara Ha Eun terdengar sangat khawatir.

“Aku baik-baik saja, kenapa kamu menelepon pagi-pagi?”

“OH.. Aku ada liputan di dekat rumahmu, sesudah itu aku rencananya mau main ke sana. Tapi kalau begini,aku akan kerumahmu dulu baru pergi ke TKP…”

“Tidak usah.. aku baik-baik saja”

“Oh… Kalau begitu apa kamu mau dibawakan sesuatu?”

“Tidak usah… aku tidak berselera…”

“OH.. Ok nanti aku belikan Tteboki ya…”

“Terserah….”

“Ya sudah… sekarang kamu istirahat... Aku kerja dulu oke? Nanti aku kesana….bye.”

“Bye….”

Yeon kembali menatap ke beranda dengan tatapan kosong setelah mengangkat telepon dari Ha Eun. Dia rapatkan kembali lututnya kedada dan memeluk dengan erat. Dagunya tertompang pasrah di antara lututnya . pikrannya kembali menerawang kesesuatu yang lampau. Segalanya malas dia kerjakan, ini tidak seperti diri Yeon yang biasanya. Gadis yang tidak pernah menunda pekerjaan dan selalu disiplin entah kemana melayangnya. Apa lagi sore ini dia harus berhadapan dengan Shin lagi di stasiun TV. Sekarang Yeon benar-benar menyesali tindakan nekatnya dan menjadikan dirinya tidak nyaman. Augh… betapa ingin sekarang Yeon berlari dan menjauh dari kenyataan yang harus di hadapinya hari demi hari.

Tok..Tok… Suara dari pintu depan menyadarkan Yeon dari lamunan kosongnya. Dia berpikir sejenak dan menerka siapa yang dating pagi-pagi sekali kerumahnya. Ah mungkin Ha Eun… tapi kenapa cepat sekali anak itu sampai ketempatnya? Bukannya dia mau bekerja dulu baru kerumah?. Yeon memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari depan beranda. Dia benar-benar berjalan dengan malas ke pintu depan, dan membukanya dengan asal. Tapi semuanya langsung menegang seketika. Yeon seperti ditampar untuk bangun saat melihat sosok yang ada di hadapannya.

Lelaki itu tersenyum dengan penuh arti, matanya yang besar seolah hilang karena tertutup senyumnya. Yeon mencoba menutup pintu karena kaget, tapi terlambat, lelaki itu telah mengantisipasi tindakan Yeon karena pengalamannya yang lalu. Yeon berusaha menahan pintu dan mendorong lelaki itu keluar, tetapi dia kalah tenaga. Lelaki itu terlalu kuat untuk dia kalahkan.

“Kita perlu bicara!!!” Dengan bersusah payah Shin menahan pintu yang di dorong dari dalam oleh Yeon.

“Apa yang ingin kamu bicarakan? Kalau masalah sekenario, bisa kita bicarakan nanti sore di staiun TV dengan Chae Yoon” Yeon tetap berusaha menghalangi Shin untuk masuhk di apartemennya.

“Ini bukan masalah naskah.. ini ma..sa..lah… malam itu…” Tiba-tiba Shin terdorong ke dalam kamar. Pintu yang susah payah didorongnya dari tadi kini dengan mudahnya dia terbuak. Saat masuk dia mendapati Yeon yang mematung./Bersambung-----

“Aku Tak Mau Jadi Pahlawan, Aku Mau Jadi Orang Yang Bertepuk Tangan Di Tepi Jalan.”

Written By radar indo on Thursday, January 23, 2014 | 8:01 AM

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden.

Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya.

Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab: "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru
TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main". Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.

Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK? Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami,

tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti.  Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka.

Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. 

Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik. Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue.

Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil.

Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.  Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang
semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.
Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

“Ibu, Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya.Mengapa anak2 kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang berhati baik dan jujur./Islamedia

Cerpen:Demi Senyum Ibu Karya Disyak Ayummy

Written By radar indo on Tuesday, January 21, 2014 | 3:52 AM

Aku masih berdiri mematung di tengah-tengah ruangan bercat serba putih yang sempit ini. Bau obat-obatan dan mesin pemantau detak jantung, seolah ikut memancing emosiku. Pikiranku berkecamuk menderu antara marah, sedih, dan juga ketidak ikhlasan atas garis hidup yang harus aku jalani kini. Aku tak pernah menyangka, kalau kehidupan keluargaku akan berubah 180 derajat dalam sekejap mata.

Di atas ranjang itu, tubuh ibu tergolek lemah. Serangan jantung mendadak menimpa wanita yang telah melahirkanku, merawat dan mengasuhnya hingga kini aku dewasa. Sedangkan ayah, laki-laki yang tak tahu harus aku hormati atau kubenci, kini menempatkanku pada sebuah pilihan sulit, beliau bersimpuh pasrah di depanku. Memohon kebijakan dan kesediaanku untuk menjadi dewi penolong.

"Ayah mohon, Dinda, hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita," lirih suaranya diantara isak tangis yang membuat dadaku kian sesak. Aku tak tahu, apakah ini sebuah permohonan ataukah sebuah ancaman.

"Kenapa harus Dinda yang berkorban, Yah?"

"Karena mereka meminta kamu sebagai tebusan atas semua ini. Apa kamu rela melihat ayah masuk penjara? Lalu siapa yang akan membiayai seluruh pengobatan ibu juga kuliahmu, jika semua harta kita disita?" Untuk kesekian kalinya, kembali ayah memohon padaku. Walau aku tetap bersikeras dengan pendirian dalam pikiranku.

Kupandangi wajah lelaki bertubuh kekar yang selama ini selalu aku hormati. Ada rasa muak yang tiba-tiba menyelusup ke dalam hati, setiap kali mendengar permintaannya itu. Setelah ketakutannya untuk dipenjara, kini kesehatan ibu lah yang sengaja dijadikan alasan untuk terus menekanku. Aku tak perduli dia dipenjara, aku juga tak peduli bagaimana nasibku setelah ini. Aku hanya berpikir tentang kondisi kesehatan ibu, aku tidak bisa membiarkan ibu terus-menerus kesakitan tanpa penanganan medis. Akh, Aku benar-benar merasa di hadapkan pada sebuah dilema yang sangat sulit.

Semalam ayah bilang kepadaku dan juga ibu, kalau selama bekerja sebagai mandor di pabrik kopi, ayah sudah banyak melakukan korupsi. Dan akhirnya, minggu kemarin kelakuan ayah diketahui oleh atasannya. Atasannya mengancam akan melaporkan ayah ke polisi, serta menyita seluruh harta benda kami sebagai ganti atas aksi korupsinya selama ini.

Tapi kemudian atasannya membuat sebuah penawaran. Dia tidak akan melaporkan ayah ke polisi, juga tidak akan menyita harta benda kami. Bahkan atasan ayah tetap memperbolehkan bekerja di pabrik itu, asalkan aku mau menjadi istri simpanannya.

Mendengar pengakuan itu, penyakit jantung ibu langsung kambuh. Meskipun penyakit jantung ibu tidak begitu parah, namun tetap saja membuat aku sangat cemas. Apalagi, biaya perawatan di rumah sakit sekarang tidak lah murah.

"Ayah yang korupsi, dan Ayah harus berani mempertang jawabkannya! bukan malah menjual aku pada atasan ayah untuk lepas dari jeratan hukum!" Kukibaskan tanganku sekuat tenaga, dan laki-laki itu terjungkal kebelakang. Aku tak perduli lagi dengan semuanya ini. Kubalikkan badanku dan pergi meninggalkan ruang perawatan ibu.

Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi menuju ke arah pantai. Sesampainya di pantai, kuhempaskan tubuhku di atas hamparan pasir. Aku berharap bisa berfikir dengan jernih dan tenang di tempat yang sunyi itu.

Aku memang tidak sepenuhnya mengalahkan ayah. Karena bagaimana pun juga, aku dan ibu ikut menikmati hasilnya. Rumah yang bagus, motor, makanan enak setiap hari, liburan ke luar kota, dan juga aku bisa kuliah.

Aku sama sekali tak pernah menyangka, kalau selama ini ayah korupsi. Meski sebenarnya kami tak pernah meminta atau setuju ayah korupsi. Tapi bagaimana pun juga, semua ini sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Dan ini adalah cobaan dan kenyataan yang harus aku hadapi.

Setelah beberapa hari berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk menolak permintaan ayah. Aku tidak mau menjadi istri muda dari atasannya. Jujur, aku sedih melihat lelaki berjuluk kepala keluarga itu harus dipenjara. Bukannya aku tidak sayang, dan ikhlas membiarkan ayah di penjara. Aku hanya ingin beliau bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Aku ingin keadilan ditegakan dengan adil. Siapa yang bersalah, dia lah yang harus bertanggung jawab. Aku ingin ayah mentaati hukum sebagai warga negara yang baik, dan berharap, dengan kejadian ini ayah bisa sadar atas kesalahannya selama ini.

Semenjak ayah di penjara dan harta benda kami disita, aku dan ibu terpaksa menumpang di rumah pakdhe, di desa. Dan tentu saja, beban hidup berpindah ke pundakku. Aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya perawatan ibu, akhirnya aku putuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja. Namun ternyata gajiku hanya cukup untuk kebutuhan hidup saja, sementara ibu masih membutuhkan biaya untuk kontrol ke dokter seminggu sekali.

Atas saran dari beberapa teman,dan dengan meminjam uang dari pakdhe sebagai modal, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja menjadi BMI di luar negri. Dengan alasan bahwa gaji yang di tawarkan lumayan besar. Dan Taiwan menjadi negara yang aku tuju, karena gajinya lebih besar daripada negara lainnya.

Setelah dua bulan aku belajar bahasa, memasak dan merawat orang jompo di penampungan, akhirnya visaku turun dan burung besi membawaku tebang ke negara Taiwan. Negara yang memiliki empat musim, dan berjuluk negara “Ubi Rambat” karena bentuk negaranya menyerupai Ubi.

Sesuai dengan kontrak kerja yang aku tanda tangani, aku bekerja menjaga seoarang akong yang menderita sakit Parkinson, dan membersihkan rumah empat lantai di kota Chiayi. Tapi kenyataanya, selain menjaga akong, aku juga harus menjaga ama. Sebenarnya ama masih sehat, tetapi karena dia pikun, dia sering melakukan sesuatu yang berbahaya karena dia lupa. Pernah saat aku mengganti popok akong, ama menyalakan kompor gas dan menggoreng telur sendiri. Tetapi hanya di pandangi saja, sampai hangus dan hitam. Untung aku mencium bau hangus, dan langsung menyusul ama ke dapur. Pernah juga ama pergi keluar rumah sendiri, saat aku lupa mengunci pintu. Untung ada tetangga yang melihat ama di dekat jalan raya dan segera memberitahuku.

Saat aku cerita hal itu sama majikan, ternyata dia sama sekali tidak mau tahu, bahkan dia mengancamku.

"Kalau kamu tidak bisa mengerjakan tugasmu dengan benar, saya akan kembalikan kamu ke agent. Biar kamu di pulangkan ke indonesia."

Mendengar ancaman itu, ingin rasanya aku pulang sekarang juga dan mengadu pada ibu. Tapi aku tak mungkin melakukan itu. Selain potongan bank yang belum lunas, aku juga tidak mau mengecewakan ibu karena aku telah gagal bekerja di sini. Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Aku harus bertahan bekerja di sini bagaimana pun sulitnya. Aku ingin membuat ibu tersenyum bangga dan bahagia. Ya, aku akan membahagiakan ibu dengan uang yang halal dari tetesan keringatku.

Tiga tahun tidak lah lama, dan aku yakin bisa bertahan. Karena Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya.

Dalam Dekapan Cinta By : Disyak Ayummy - Chiayi

Written By radar indo on Saturday, December 14, 2013 | 4:52 AM


Gerimis masih saja mewarnai pagi di awal awal bulan September. Rinainya, walau tidak lebat tapi cukup membuat orang-orang untuk mengembangkan payung mereka, termasuk Ayu. Gadis manis itu sedikit berlari tertatih menuju salah satu gedung perkantoran di kawasan Golden Park Industry. Sesekali dia melirik jam tangannya, 'Waduh, aku terlambat,' kata Ayu dalam hati.

Ayu segera melipat dan memasukkan payungnya ke dalam tas begitu dia sampai di pelataran kantornya, kemudian dia berlari kecil menuju lift di sebelah kiri lobby. Tak dihiraukannya rasa sakit yang mulai menjalar di kaki kirinya. Kecalakaan 6 tahun lalu memang tidak hanya merenggut ayah tercintanya dari dunia, tapi juga menyisakan sakit di kaki kirinya, dan memaksanya berjalan sedikit pincang sampai sekarang. Menurut Dokter, engsel pergelangan kaki kirinya bergeser dan tulangnya sedikit retak, tapi karena keterbatasan biaya, akhirnya Ayu hanya bisa membawanya ke tukang urut.

Ayu masih ingat betul, pagi itu dia sedang diantar ayahnya menggunakan sepeda menuju sekolah. Namun sewaktu menyeberang jalan di perempatan, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak mereka dari arah samping. Padahal waktu itu jalur yang Ayu dan ayahnya lewati sudah menunjukkan lampau hijau. Ayu sempat melihat ayahnya terlempar beberapa meter dan terhempas di trotoar bermandikan darah. Sedangkan dirinya tersungkur dengan kaki kiri masuk ke jeruji sepeda.

Orang-orang mulai berdatangan untuk memberi pertolongan. Ayu berteriak histeris melihat keadaan ayahnya yang bersimbah darah.

Sementara itu seorang lelaki berusia sekitar 50 tahuan, dan seorang pemuda keluar dari mobil yang barusan manabraknya tadi. Sang supir juga keluar dengan wajah ketakutan.

"Pak Maman, saya yakin kamu bisa urus masalah ini, pengacara keluarga saya akan mendampingi kamu. Berapa pun biayanya, itu tanggungan saya, kamu mengerti kan?"

"Iya, Tuan, saya mengerti." Pak Maman menganguk, lalu dia melambaikan tangannya. Sebuah Taxi berhenti. Tak lama kemudian taxi itu berlalu membawa lelaki dan pemuda tadi meninggalkan tempat tersebut, sebelum orang-orang semakin banyak berdatangan.

Acara tujuh hari meninggalnya ayah Ayu, baru saja selesai. Para tetangga pun satu persatu meninggalkan rumah sederhana itu. Ayu membantu ibunya mengemasi sisa-sisa makanan, dan gelas-gelas untuk di bawa ke dapur.

"Assalammualaikum, apa benar ini rumahnya pak Aziz?" Ayu menoleh ke arah pintu, di mana seorang lelaki setengah baya berdiri.

"Waalaikum salam, iya benar ini rumah pak Aziz. Ada perlu apa Bapak dengan Ayah saya?"

"Maaf, boleh saya masuk? Ada yang ingin saya bicarakan."

"Ohh maaf, silahkan masuk, saya panggil ibu sebentar." Ayu mempersilahkan tamu itu duduk di tikar, lalu dengan terpincang-pincang dia berjalan ke arah dapur.Tak lama kemudian dia kembali bersama ibunya.

"Maaf, Bapak siapa, ya? Dan ada perlu apa Bapak kemari mencari Almarhum suami saya?" tanya ibu Ayu sambil duduk di depan tamu itu.

"Sebelumnya saya minta maaf, kalau kedatangan saya mengganggu keluarga Ibu. Saya, Maman, supir pak Andre yang menabrak suami serta anak, Ibu. Saya datang ke sini untuk menyampaikan permintaan maaf pak Andre, serta untuk menyerahkan santunan untuk Ibu sekeluarga." Lalu pak Maman mengeluarkan amplop dari saku jaketnya, "Mohon Ibu sekeluarga mau menerima santunan ini walau tidak seberapa." Pak Maman meletakkan amplop tersebut di depan ibunya Ayu. Ayu dan ibunya saling berpandangan, lalu ibunya mengambil amplop itu dan menyodorkan kembali ke arah pak Maman.

"Maaf, Pak. Kami sudah iklas dengan kepergian suami saya, dan kami sudah mengangapnya sebagai takdir. Sebaiknya Bapak kembalikan ini semua kepada pak Andre, kami sudah memaafkan dia."

"Tapi ini bisa untuk membantu kelangsungan kehidupan Ibu sekeluarga, sepeninggal pak Aziz."

"Insyaallah, saya masih mampu untuk membesarkan Ayu dan adiknya, Pak."

"Jadi, Ibu benar-benar menolak uang ini?"

"Sebaiknya Bapak pulang saja dan kembalikan uang itu kepada pak Andre."

"Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit, Wassalammualaikum." Pak Maman memasukkan kembali amplop itu ke saku jaketnya, lalu bangkit dan beranjak ke arah pintu.

"Waalaikum salam ...," Ayu dan ibunya manjawab bersamaan.

Ting tong ...

Suara lift menyadarkan Ayu dari lamunannya. Pintu lift terbuka, Ayu segera masuk ke dalam lift dan memencet angka 8.

"Tumben si pincang telat, kirain nggak bakalan masuk kerja." Mimi yang duduk bersebelahan dengan Ayu mengejek sinis, "Cepat bikin laporan penjualan dari Devisi Apparel, juga Devisi Denim. Sebelum makan siang sudah harus di serahkan ke pak Panji." Mimi meletakkan setumpuk map di meja Ayu. "Awas kalau laporannya sampai telat!" Mimi mendorong pundak Ayu, lalu kembali ke mejanya. Tetapi Ayu tidak segera menjawab, matanya tertuju pada sekotak roti bolu dan secangkir kopi di samping komputernya. Senyumnya merekah, hatinya di penuhi dengan bunga-bunga.

Saat Ayu hendak meminum kopi itu, matanya tertuju pada secarik kertas dengan tulisan tangan yang menempel di atas kotak roti itu. Ayu meraihnya, lalu dibacanya, "Aku tahu kamu belum sarapan, semoga ini bisa membuatmu semangat bekerja hari ini. Dhiaz."

Ayu tersenyum, dia sangat bahagia dengan perhatian dan kejutan yang selama satu bulan ini diterimanya dari Dhiaz. OB yang baru dua bulan bekerja di kantor itu. Meski Dhiaz hanya seorang OB, tapi di mata Ayu, Dhiaz adalah seorang yang cerdas serta nyambung kalau diajak ngobrol dengan topik apa pun. Ayu ingat waktu pertama kali dia dekat dengan Dhiaz, waktu itu Ayu terpaksa lembur sendiri karena laporan yang akan dibuat meeting besok pagi, tiba-tiba hilang dari komputernya, saat hendak dia print out. Terpaksa dia harus membuat ulang laporan tersebut.

"Ada masalah? kenapa jam segini belum pulang?" Tiba-tiba Dhiaz sudah berada di belakangnya.

"Ini ..., laporanku tiba-tiba aja hilang, terpaksa aku harus bikin lagi, soalnya besok pagi harus diserahin ke pak Panji."

"Sini, coba aku lihat.," kata Dhiaz sambil menarik kursi, dan mengambil mouse dari tangan Ayu.

"Emangnya kamu bisa? kamu kan hanya seorang OB." Ayu melirik Dhiaz sambil menggeser kursinya, untuk memberi tempat pada Dhiaz.

"Laporanmu tidak hilang, hanya berpindah folder, mungkin tanpa sengaja kegeser. Aku akan kembalikan ke folder semula. Nah ...sekarang sudah selesai, tinggal printout saja."

"Dhiaz, makasih, ya. Ternyata kamu tuh pinter juga, ya. Kenapa kamu tidak melamar pekerjaan yang lebih baik? Kenapa kamu malah memilih jadi seorang OB?"

"Ini adalah pekerjaan yang aku impikan," jawab Dhiaz sambil tersenyum.

"Maksudnya?" Ayu menggerutkan dahinya tanda tak tahu.

"Suatu saat nanti kamu juga akan tahu, sebaiknya kamu cepet bereskan barang kamu, dan pulang. Ini sudah malam."

Itulah awal kedekatan Ayu dengan Dhiaz. Dan sejak itu Ayu mulai akrap dengan Dhiaz, meski secara diam-diam dan curi-curi waktu di kantor. Mereka hanya bertemu di taman belakang kantor saat jam istirahat, dan sore hari saat Dhiaz mengantar Ayu pulang pakai sepeda motor.

Dhiaz selalu mengantar Ayu pulang ke rumah, tapi Dhiaz tidak pernah menjemput Ayu saat berangkat kerja. "Aku harus berangkat pagi-pagi untuk membersihkan kantor sebelum karyawan kantor datang." Itulah alasan Dhiaz tidak pernah menjemput Ayu tiap pagi, dan Ayu bisa menerima alasan itu.

"Sebaiknya kita jaga jarak di kantor, ini demi nama baikmu." Kata Dhiaz suatu sore saat dia mengantar Ayu pulang. Ayu faham maksud Dhiaz meski dia sedikit tidak setuju, karena Ayu tidak pernah memandang seseorang dari derajadnya, tapi dari hatinya.

"Aku tak pernah memandang status dan derajad kamu Dhiaz, tapi aku memandang hati serta kedewasaan kamu."

"Ya, aku tahu. Kamu tidak silau dengan harta dan jabatan, itulah yang membuat aku suka sama kamu, Ayu."

"Apa? kamu ... kamu suka aku?" Tanya Ayu seolah tak percaya, "Aku cacat Dhiaz."

"Iya, aku suka kamu karena hatimu, aku tak perduli dengan fisik kamu,. Apa kamu mau jadi kekasihku?" tanya Dhiaz sambil meraih tangan Ayu. Wajah Ayu bersemu merah, jantungnya berdegup kencang, "Jawab aku Ayu, apa kamu mau jadi kekasihku?" Ayu menatap lekat wajah tampan Dhiaz, sehingga dia bisa melihat wajahnya sendiri di bola mata Dhiaz.

"Sebenarnya aku juga suka kamu Dhiaz, aku mau jadi kekasihmu."

"Terimakasih kamu sudah mau jadi kekasihku Ayu." Dhiaz meraih tubuh Ayu dan mendekapnya. Ayu merasa seperti terbang. Ini pertama kalinya ia didekap oleh seorang laki-laki, yang menerima dia apa adanya dengan segala kekurangannya. Tak terasa air mata Ayu menetes.

***
Sebuah Bus berhenti di depan Ayu, tapi Ayu tak perduli. Tangannya masih saja sibuk membolak balik isi tasnya, "Aduh, mana sih dompetku?"

Hari ini Ayu pulang sendiri karena Dhiaz tak bisa mengantarkannya pulang. "Ayu, maaf ... hari ini aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus ke bengkel mengambil motorku, tadi pagi ada sedikit masalah di mesinnya." Dhiaz menggengam tangan Ayu saat mereka bertemu di sudut koridor kantor siang tadi.

"Nggak apa-apa, kebetulan aku juga mau ke tempat budhe buat jemput Ibu. Aku bisa naik bus nanti." Ayu melepaskan genggaman Dhiaz dan tersenyum, "Aku balik kerja dulu ya." Ayu lalu berjalan kembali ke ruang kerjanya.

Sudah sepuluh menit lebih Ayu memeriksa isi tasnya, tapi tetap saja tak berhasil menemukan dompetnya.
"Akh, pasti ketinggalan lagi di laci."
Ayu beranjak dari halte dan memutuskan kembali ke kantor untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan.

Ayu tersenyum sambil memasukkan dompetnya ke dalam tas, perlahan dia menyusuri koridor kantor yang sudah sepi. Saat melewati ruangan pak Panji, langkah Ayu terhenti. Dari pintu yang tidak tertutup sempurna, Ayu bisa melihat dengan jelas Dhiaz dan Pak Panji sedang berbincang akrap. "Bagaimana mungkin Dhiaz bisa seakrap itu dengan Pak Panji?" Batin Ayu bingung. Lalu dia melangkah perlahan mendekati pintu. Ayu penasaran.

"Sampai kapan kamu mau terus-terusan jadi OB di kantor Om? trus siapa yang mengawasi bisnismu di Boston?"

"Dhiaz bisa mengawasinya dari sini, Om nggak perlu khawatir."

"Atau, jangan-jangan kamu telah jatuh cinta sama si Ayu itu, sehingga kamu betah jadi OB di sini?" tanya pak Panji sambil tersenyum.

"Dhiaz memang telah jatuh cinta padanya, Om. Dia adalah gadis berhati mulia, tidak silau oleh harta."

"Apa belum cukup balas budi kita ke keluarga dia? Kita telah membiayai pendidikannya dari SMU sampai Lulus kuliah, dengan pura-pura memberi beasiswa tanpa sepengetahuan dia. Kita juga sudah memberinya pekerjaan yang layak di sini. Apalagi yang kurang?"

"Apa Om sudah lupa kejadian 6 tahun lalu? Beruntung gara-gara kecelakaan itu saya dan Papa terlambat sampai di bandara, dan tidak bisa mengejar Penerbangan pertama ke Boston. Karena pesawat itu akhirnya meledak sesaat setelah lepas landas. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin saya dan Papa sudah meninggal, Om."

"Ya, Om tahu itu. Meski pak Aziz meninggal, tapi keluarga mereka bahkan tidak menuntut apa-apa, padahal kitalah yang menerobos lampu merah. Mereka juga tidak mau menerima santunan kita. Dan akhirnya kita memilih cara sembunyi-sembunyi untuk menebus kesalahan kita. Lalu kapan kamu akan berterus terang ke pada gadis itu kalau kamu mencintainya?"

"Sebenarnya hari ini Dhiaz mau jujur ke dia tentang semua ini, tapi tadi Om bilang mau bicara sama saya. Jadi mungkin besok saya akan berterus terang ke dia, sekaligus melamarnya." Dhiaz mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.

Pak Panji mengambil cincin itu dan memperhatikannya dengan seksama, "Ini cincin Almarhumah mamamu, kan?" Lalu dikembalikan lagi cincin itu pada Dhiaz.

"Iya, ini cincin Almarhumah mama. Dan dengan cincin ini pula, besok saya akan melamarnya." Dhiaz kembali memasukkan cincin itu ke dalam sakunya.

"Bukk..!!"
Tanpa sadar tas Ayu terjatuh, Ayu segera meraihnya dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Dhiaz dan Pak Panji saling berpandangan.

"Ayu ...! Bagaimana dia masih di sini?" Seberkas kekhawatiran menyelimuti Dhiaz.

"Kejar dia Dhiaz, jelaskan padanya tentang semua ini."

"Iya Om." Dhiaz lalu berlari mengejar Ayu.

"Ayu, tunggu ...!" Ayu tahu Dhiaz mengejarnya, tapi Ayu tak perduli, dia tetap saja berlari. Yang ada di fikirannya adalah secepatnya lari meninggalkan tempat itu.

"Jadi semua ini hanyalah sandiwara. Beasiswa yang selalu dia dapat, serta pekerjaan ini ... ternyata semua sudah diatur oleh Pak Panji dan Dhiaz. Kenapa kamu bohongi aku Dhiaz? Kenapa ...? Kenapaa ...?" Sebisa mungkin Ayu menahan air matanya, hatinya benar-benar kecewa dan hancur.

Ayu masih saja berlari, dia masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. Ayu melihat sebuah taxi terparkir di seberang jalan, dia segera berlari menghampiri taxi itu, Ayu berharap bisa secepatnya meninggalkan tempat ini dengan taxi itu.

"Perumahan Ungaran Indah, Pak ...," kata Ayu kepada supir taxi itu. Tapi belum sempat taxi itu melaju, tiba-tiba terdengar suara keras di samping taxi.

"Braakk ... ciiittt ... ciiitt ...!!"

Dari kaca samping, Ayu bisa melihat dengan jelas tubuh Dhiaz yang tertabrak motor dan tergeletak di tengah jalan. Perlahan darah mulai merembes keluar dari tubuhnya.

"Dhiaaaazz ...!!" Ayu berteriak dan berlari ke arah tubuh Dhiaz. Bayangan tubuh ayahnya yang bersimbah darah saat kecelakaan 6 tahun lalu, seketika memenuhi benaknya.

"Dhiaz, bangun Dhiaz ... kumohon bangun Dhiaz. Tolong ... tolong ... Dhiaazz ...!!" Ayu menangis sejadi-jadinya, dia benar-benar ketakutan. Di goncang-goncangkannya tubuh Dhiaz, tapi Dhiaz tetap diam tak bergerak.
"Dhiaz ... jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Dhiaz, bangun Dhiaz ... huu ... huu ... huu ... Dhiaazz ...! Tidaaakk ...! Dhiaazz ...!!"

**
Pagi baru saja menyapa bumi. Perlahan Dhiaz membuka matanya. Kepala dan tubuhnya penuh dengan perban.

"Syukurlah, akhirnya kamu siuman. Jangan bergerak dulu, kamu masih lemah. Aku sudah kasih kabar ke papamu, dia masih di perjalanan. Sore nanti pesawatnya baru sampai ke Indonesia." Lalu Pak Panji menekan tombol di samping ranjang Dhiaz, untuk memangil Suster perawat.

"Ayu ...," Dhiaz memandang omnya. Pak Panji menengok ke samping, Dhiaz mengikuti arah pandangan omnya itu. Dhiaz tersenyum melihat Ayu sedang tidur pulas di sofa, sambil memeluk baju Dhiaz yang berlumuran darah.

"Semalaman dia menjagamu. Dia juga telah mendonorkan darahnya untukmu, karena kamu kehilangan banyak darah waktu itu. Aku sudah menyuruhnya pulang untuk istirahat, tapi dia tidak mau. Dia benar-benar gadis yang baik."

"Selamat pagi, kami akan mengecek keadaan pasien sebentar." Ayu terbangun mendengar suara suster yang sedang memeriksa Dhiaz.

"Dhiaz, kamu sudah siuman." Ayu berjalan menghampiri ranjang Dhiaz.
"Maafkan aku, Dhiaz, gara-gara aku kamu jadi begini," kata Ayu sambil menggemgam tangan Dhiaz.

"Ini bukan salahmu, Ayu. Akulah yang bersalah karena telah menyembunyikan semua ini darimu. Ayu, aku benar-benar mencintaimu tulus dari dasar hatiku, dan bukan karena balas budi atas kejadian 6 tahun lalu. Ayu, apakah kamu mau menikah denganku?"

Ayu seolah kehabisan kata-kata hatinya dipenuhi rasa bahagia, dia hanya bisa menganguk menerima lamaran Dhiaz.
Dhiaz mengambil cincin yang di sodorkan pak Panji. Dan di saksikan oleh kedua suster serta pak Panji, Dhiaz memakaikan cincin itu di jari manis Ayu.

"I love you, Ayu."
"I love you too, Dhiaz."

*Tamat*

Penulis kini masih bermukim di
 Xiao Ya Road. East District. Chiayi City.  

Korban Fitnah: Oleh Disyak Ayummy

Written By radar indo on Friday, December 13, 2013 | 4:59 AM

Marlina baru saja hendak memejamkan matanya, ketika terdengar suara gaduh di luar rumahnya.

"Keluar kau, Setan! Bunuh ... bunuh! Bakaarr ...! Hancurkan saja rumahnya ...!"

"Ada apa, Mas? Kenapa orang-orang berteriak di luar rumah kita?" tanya Marlina pada, Sandi, suaminya yang tengah memakai kaos.

"Saya juga tidak tahu, Bu. Kamu di sini saja jaga Dhira, biar aku yang keluar," kata Sandi sambil melangkah keluar kamar.

Marlina segera merapikan baju tidurnya, dan meraih Dhira dalam dekapannya. Bayi berusia tujuh bulan itu masih saja tertidur lelap. Dia seolah tidak terganggu dengan suara gaduh di luar rumah.

Krieet ...!

Pintu kamar Marlina terbuka, nampak lima orang laki-laki masuk dan langsung merampas Dhira dari pelukannya. Sekuat apa pun dia mempertahankan anaknya, namun mereka terlalu kuat untuk dilawan.

Tanpa ampun mereka menjambak rambut Marlina, dan menyeretnya keluar rumah. Kemudian mereka mengikat Marlina pada sebuah tiang. Sementara suaminya terlihat tergeletak bermandikan darah, tetapi masih hidup. Sedangkan anaknya menangis keras, karena digantung dengan posisi kaki diatas.

"Kalian telah meneluh beberapa warga dan memelihara tuyul, supaya kalian bisa kaya. Dan, kalian harus mati, malam ini juga," kata salah seorang dari mereka.

"Kalian salah. Kami tidak pernah meneluh warga, atau memelihara tuyul," kata Marlina sambil terisak. Dia yakin, bahwa para warga telah terhasut oleh fitnah dari orang yang iri padanya.

"Bohong! Buktinya kalian bisa membeli sawah dan membangun rumah!" teriak orang itu lagi.

"Itu tabungan kami sebelum menikah."

"Sudah, bunuh saja! Bakar ... bunuh ...!" teriak para warga penuh amarah.

Warga yang telah dirasuki amarah pun semakin bertindak brutal. Marlina hanya bisa berteriak dan menangis saat beberapa orang mulai menyiksa suaminya. Dengan berbagai senjata tajam, mereka mencincang tubuh sandi. Darah segar pun muncrat, mengenai orang-orang yang menyiksa Sandi. Bahkan setelah Sandi meninggal pun, mereka masih belum puas. Mereka memotong-motong tubuh Sandi. Bau anyir darah yang bercampur organ dalam, Sandi, menusuk hidung Marlina.

Belum sepenuhnya Marlina menguasai diri, melihat suaminya yang meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan. Kini, dia harus menyaksikan pemandangan yang kembali mengiris hatinya. Mereka membakar rumahnya, dan melemparkan tubuh mungil Dhira ke dalam kobaran api. Marlina berteriak histeris. Dia tidak bisa menerima kenyataan, bahwa suami dan anaknya harus meninggal dengan cara seperti ini.

"Sekarang giliran kamu, Perempuan Sundel!" teriak beberapa orang sembari tertawa. Mereka pun mulai mengiris-iris tubuh Marlina, dan menyiram luka tersebut dengan air garam dan cuka. Sakit, perih, tetapi Marlina pasrah. Dia iklas menerima siksaan ini, asal bisa segera mati dan bertemu suami dan anaknya.

Marlina mulai terlihat lemas, karena kehabisan darah. Bibirnya sempat menyebut nama yang Esa, sebelum dia menutup mata untuk selamanya.

Chiayi 12 Des 2013

Sejauh Dia Melangkah Pergi Cinta Sejati Pasti Kembali

Tiba-tiba langkah ku terhenti disini, di tempat terakhir kali melepasnya pergi, belasan tahun lalu. Pemandangan yang sama masih jua terasa. Sebuah bangku kayu yang dulu bercat kuning masih nampak sama namun setengah lapuk termakan usia. Sebatang pohon beringin yang berdiri di samping bangku itu masih jua kokoh walau tak ku ketahui sudah berapa abad lamanya pohon itu berdiri di tempatnya. Sekilas, ku tengadahkan wajahku menatap mega yang sedari tadi murung, menantang rerintik hujan yang mulai menetes dari kanvas cakrawala. 

Banyak orang bilang saat kita menangis dalam hujan maka takkan ada sesiapa pun yang akan mengetahuinya. '' Menangislah jika kau ingin menangis karna menangis akan melegakan hati mu'', bisikan itu pun terus terngiang dalam benakku setiap kali hujan turun, seperti saat ini. Aku terus menantang rintik hujan yang sedikit demi sedikit menghantam jiwaku, meleburkan segala asa yang telah lalu . Tak peduli sudah berapa kali gemuruh halilintar menggelegar, berselang seling bersamaan dengan kilatnya. Tak peduli pula tatapan-tatapan aneh menyoroti diriku.

''Hentikan memandangiku...! Biarkan aku mengenangnya untuk yang terakhir kali ...'', jeritku dalam hati. Aku terduduk dalam tangis, ku pejamkan mata dan mencoba mengingat kenangan masa lalu yang enggan beranjak dari ingatan ku akhir-akhir ini.

***

'' Kenapa kau Nad? '', sebuah tepukan ringan dari seorang pria yang ku tunggu membuyarkan imajinasiku tentang pria ini. Ryan Prayoga, begitulah namanya. Pria berkacamata minus dengan tas punggung yang masih di pundaknya itu langsung duduk di sebelahku, di sebuah bangku kayu tempat biasa kami bertemu usai pulang sekolah . Aku hanya menggelengkan kepala dan segera menutup buku gambar yang ada di pangkuanku. Ryan hanya tersenyum melihat tingkahku yang gelagapan saat dia duduk berdekatan denganku. Tak biasanya Ryan seintim ini padaku. Kupandangi matanya lekat-lekat, ada kilatan yang tersembunyi dalam bening netranya. Seketika aku berhenti bernafas, saat tiba-tiba Ryan mencium bibirku. Lama. Ini pertama kalinya Ryan menciumku. Ada kehangatan yang tak pernah kurasa sebelumnya bersama pria ini. Rasa damai begitu menyeruak dalam jiwa ku. "Mungkinkah ini yang disebut cinta?" Kupejamkan mata menikmati sensasi indah dunia ini. Jantungku serasa berhenti berdetak. Sungguh indah.

"Sebenarnya aku tak ingin jarak memisahkan kita Nad'', katanya sesaat setelah menciumku. Ryan bangkit dari tempatnya duduk, dia berjalan mengahmpiri danau sembari mengambil batu-batu kerikil yang ada disekitar danau. Lalu, melemparkannya ke tengah danau yang ada di hadapan kami. Bunyi buihnya seirama dengan detak jantungku, ada rasa yang mengembang bagai gelombang, namun aku tak tau bagaimana menetralisirnya. Perasaan ini begitu berkecamuk dalam hatiku. Dan aku hanya mampu diam ditempatku.

'' Orang tua ku memutuskan pindah ke Papua untuk menuruskan tambang batu bara milik Eyang. Kau tau Nad, ini sangat berat bagiku'', lanjutnya yang tak lagi membuang batu kerikil ke danau. Aku menatapnya dalam diam, bibirku kelu tak bisa berkata. Ryan tersenyum getir. Aku tau dia terluka. Sama seperti hatiku saat ini, bagai ada ribuan jarum yang menusuk dada, meluncur ke ulu hati yang terdalam.

'' Tik... Tik... Tik...'', rerintik hujan tiba-tiba berjatuhan dari puncak cakrawala. Aku segera berdiri dari tempatku tapi tiba-tiba tangan Ryan menahanku. Dia hanya menggelengkan kepala dan memberikan isyarat agar tetap di tempatku. Hujan makin deras mengguyur aku dan Ryan namun tetap saja Ryan tak melepaskan tanganku dari genggamanya, selang beberapa saat Ryan menarikku dalam peluknya. Dia menangis di pundakku, aku hanya bisa terpaku tanpa kata. Dadaku sesak, ingin rasanya membalas peluknya namun aku tak mampu.

Satu jam berlalu tanpa kata, hujan masih saja mengguyur kami. Tak ada kata selain dekapan hangat darinya. Lalu, Ryan menggandeng tanganku menuju ke sebuah pohon beringin yang sedari tadi menjadi penonton paling setia ditempat ini. Ryan mengeluarkan pisau lipatnya, mengukir sebuah tanda cinta yang di tengahnya bertuliskan nama kami.

'' Tunggulah aku Nad, aku pasti kembali untukmu. Jika kau tau kekuatan cinta sejati, dia akan kembali sejauh dia melangkah pergi'', kata Ryan parau. Ryan mengakhiri ukirannya pada pohon beringin ini. Dia kembali menatapku dan menelangkup wajahku dengan kedua tangannya. Airmata yang sedari tadi ku bendung, akhirnya tumpah jua lewat kedua ujung mataku. Ryan mengusapnya dengan kedua Ibu jarinya dan sekali lagi dia menciumku. Aku benar-benar larut dalam keadaan ini. Berat rasa hati melepasnya pergi tapi aku juga tak tau harus berbuat apa?

***

Kini usia ku sudah dua puluh delapan tahun. Sudah belasan tahun kiranya Ryan pergi dari pandanganku. Sudah belasan tahun pula tak ku dengar kabar darinya.

"Bodohnya aku yang terus saja menunggu", rintihku dalam tangis.

Walau sudah kerap kali mencoba dan memberi ruang pada orang-orang disekitarku, hatiku tetap tak bisa berpaling darinya. Sosok Ryan begitu kuat merasuk dalam jiwaku, memenuhi setiap rongga dalam ragaku. Buliran kristal seakan tak mau berhenti mengalir dari ujung mataku, bercampur luruh bersama derasnya hujan yang masih jua menangis dari puncak cakrawala. Cinta itu membungkamku dalam lembah tanpa batas. Memberikan guratan kerinduan dalam setiap jengkal penantian. Ada segerumbulan rasa yang tiba-tiba menyergap jiwa tapi tak ku ketahui dari mana asalnya.

''Nadira'', gema suara yang ku kenal itu memanggilku. Lirih. Ku dongakkan kepala dan ku lihat sesosok pria berkacamata tengah berdiri dihadapanku. Pria yang ku kenal tapi sedikit berubah, tampilannya tak seperti dulu, terlihat maskulin ku rasa. Sejenak, hatiku bimbang. "Bernarkah dia Ryan? Pria yang selama ini ku tunggu.

''Kau tak mengingatku Nad, aku Ryan'', lanjutnya. Mataku sedikit membulat mendengar nama itu. Adrenalinku berpacu lebih cepat dari biasanya. Aku masih terduduk di tempatku, rasa nyeri masih menguasai diriku.

'' Rrrrryan...'', kataku setengah tak percaya.

''Jika kau tau kekuatan cinta sejati, dia akan kembali sejauh dia melangkah pergi'', katanya sambil medekat ke arahku. Ryan membantu ku bangkit dari tempat ku lalu dia memelukku erat, sangat erat. Janji yang dulu pernah dia ucapkan sebelum kepergiannya kini terulang kembali. Rindu itu akhirnya terbalas jua. 

Hari ini, di saat hujan turun, saat gelegar halilintar menyambar-nyambar, kejadian yang sama begitu jelas tergambar. Meleburkan penantian yang selama ini ku nanti. Ini lah kekuatan cinta yang sebenarnya. Tak ada yang bisa memisahkan keagungan cinta tanpa kehendakNya.Untuk sebuah janji, cinta itu kembali. Mengisi relung hati yang sempat kosong dan gersang tanpa aliran rasa. Sebuah janji yang mengikat jiwa yang tak kan luruh tergerus masa. Andai pohon beringin dan bangku tua ini dapat berbicara mungkin mereka juga akan turut bahagia bersama kami . Seperti rasaku saat ini, tentang kepercayaan akan sebuah janji.

Zhiang Zhie Yie

Advertorial

Koleksi Cantik Titi Kamal

Xiaomi? Stock Terbatas

HD Display 2 Front Firing Speakers

Anda Kolektor Uang Kuno?

Vivall.TV Streaming

Total Reader

 
Support : Radar URL Stats ONLINE | Radar Flag Counter | twitter:@radar_indonesia
Copyright © 2013. Radar Indonesia News - All Rights Reserved
Template Created by radar-indo.com Published by radar-indo.com
Proudly powered by radar-indo.com