Home » » TEKNIK PELIPUTAN dalam Jurnalistik

TEKNIK PELIPUTAN dalam Jurnalistik

Written By radar indo on Friday, December 7, 2012 | 7:48 PM



Teknik peliputan sebagai bagian dari kerja jurnalistik, mempunyai beberapa hal yang perlu diperhatikan. dalam sharing dan diskusi kali ini, kafeilmu sengaja akan membahas mengenai teknik peliputan. Dengan mengetahui teknik-teknik peliputann ini, bagi Anda yang akan terjun di dunia jurnalistik, setidaknya sudah mempunyai bahan awal yang akan bisa diaplikasikan ketika meliput. Untuk yang sudah sudah menjadi seorang jurnalis, tentu artikel ini dapat mengingatkan kembali dan menyegarkan fikiran Anda dari kritik masyarakat yang menganggap kini sebagian media sudah tidak lagi mengindahkan keseimbangan berita, karena mengangkat atau menutupi sebagian dari fakta, untuk kepentingan tertentu.


Fakta Ada di Mana-Mana, Mana Yang Saya Ambil

Tugas jurnalis adalah mencari dan mengumpulkan fakta. Fakta dicari karena jurnalis tidak selalu menyaksikan sendiri peristiwa yang terjadi, sehingga ia belum tahu apa saja fakta yang perlu dicari dan dimana fakta itu dapat diperoleh. Fakta perlu dikumpulkan karena fakta bisa bertebaran di mana saja.
Banyak fakta yang dicari dan dikumpulkan di lapangan. Sekalipun demikian, jurnalis selalu perlu mengingatkan bahwa pembaca hanya peduli terhadap apa yang penting dan menarik. Maka ketika meliput, untuk menghindari pemborosan energi dan waktu, perlu ketajaman untuk mengenali fakta yang relevan atau tidak.

Kegiatan jurnalis dalam mencari dan mengumpulkan fakta disebut meliput. Keberhasilan jurnalis melakukan peliputan ditentukan oleh kemampuannya menggunakan cara pengumpulan fakta, pengenalan terhadap ragam peristiwa serta bagaimana ia menghadapi objek realitas.

Teknik Cara Mencari dan Mengumpulkan Fakta

Ada tiga cara yang dapat digunakan jurnalis untuk mencari dan mengumpulkan fakta. Ketiga cara tersebut masing-masing pengamatan (observasi), wawancara dan riset dokumentasi.
Panduan jurnalis untuk mengumpulkan fakta adalah pertanyaan pokok jurnalisme 5W+H. Ketika melakukan observasi, pertanyaan itu ada dibenaknya, lalu digunakan otak untuk memerintahkan indra (mata, telinga, hidung,lidah, kulit dsb) untuk menangkap kesan sehingga pertanyaan itu terjawab. Ketika melakukan wawancara, pertanyaan itu dilontarkan melalui bahasa lisan yang dikomunikasikan kepada pihak yang diwawancarai. Ketika melakukan observasi, pertanyaaan itu ada di benak jurnalis atau pada selembar kertas yang digunakan untuk menelaah sejumlah arsip di tempat tertentu.

Cara manapun yang dipakai, pertanyaan 5W+H diajukan berkali-kali, dengan formulasi yang berbeda-beda, sampai akhirnya tidak ada lagi pertanyaan yang dapat diajukan, karena tidak ada lagi fakta yang bisa diperoleh di sumber informasi itu. Penting dicermati akurasi setiap fakta yang diperoleh. Akurasi tidak hanya berkaitan dengan angka dalam pengertian jumlah maupun besaran. Akurasi juga mencakup cara penulisan nama, sebutan, cara mendeskripsikan warna, sosok, suasana, bahkan menuliskan ucapan dan sebagainya. Ketidakcermatan, kelalaian atau kemalasan untuk melakukan cek ulang, merupakan sumber ketidakakuratan fakta. Ketidakakuratan berpotensi mengundang tuntutan hukum dari pihak yang merasa dirugikan oleh ketidakakuratan itu.

Teknik Observasi

Pengamatan (observasi) dipakai jika jurnalis langsung menghadapi peristiwa, jadi ia secara fisik berada di tempat peristiwa terjadi. Dengan menggunakan ketajaman indrawinya untuk menangkap kesan, jurnalis mengumpulkan semua fakta yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dirasa atau dikecap. Sebagai contoh, jika berhadapan dengan seseorang, jurnalis harus mendeskripsikan postur, wajah, warna kulit, rambut dan sebagainya yang berkaitan dengan kesan penglihatan si jurnalis. Suara ditangkap dengan kesan pendengaran. Rasa air dikenali dengan kesan pengecapan (pencicipan). Begitu seterusnya. Kesan yang diungkapkan itulah yang disebut sebagai diskripsi faktual. Akan tetapi deskripsi tersebut tidak boleh dipengaruhi subjektivitas (keinginan, harapan, atau bahkan khayal) si jurnalis. Kesan yang dideskripsikan harus benar-benar mewakili fakta.

Teknik Wawancara

Wawancara digunakan untuk memperoleh fakta tentang apa yang dialami, apa yang dilihat, atau apa pendapat maupun harapan seseorang berkaitan dengan suatu peristiwa. Wawancara selalu dilakukan terhadap beberapa pihak. Sebagai contoh, dalam peristiwa pemukulan, ada pihak pemukul, pihak korban pemukulan dan saksi mata. Untuk memperoleh fakta lengkap tentang peristiwa pemukulan tersebut, jurnalis perlu mewawancarai ketiga pihak itu.

Ketika melakukan wawancara, ada tiga hal pokok yang perlu ditanyakan oleh jurnalis, masing-masing kesan indrawi, atribut dan pendapat/ harapan seseorang. Kesan indrawi seseorang diperlukan, sebab jurnalis belum tentu menyaksikan sendiri peristiwa. Dalam peristiwa pemukulan yang tidak disaksikan oleh wartawan, fakta tentang pemukulan seperti kapan, dimana, mengapa dan bagaimana, hanya dapat diperoleh dengan mewawancarai si pemukul, korban, atau saksi.

Selanjutnya, atribut seseorang diperlukan untuk memberi gambaran bagi pembaca sehingga menjadi jelas siapa seseorang tersebut dan pada posisi mana yang bersangkutan dalam peristiwa yang terjadi. Atribut mencakup nama, usia, status (ekonomi, sosial, dsb), dan lain-lain, termasuk hubungan antar pihak yang berinteraksi dalam peristiwa. Sebagai misal, pemukulan si A terhadap si B. Fakta bahwa A adalah Ketua DPRD Yogyakarta dan B anggota DPRD Sleman, yang sama adalah atribut bagi kedua orang tersebut, selain nama masing-masing. Atribut sebagai ketua dan anggota DPRD menjadi fakta yang memberi makna tertentu bagi peristiwa pemukulan tersebut. Bagi tokoh tenar, tentu saja nama, usia, pekerjaan, dan sebagainya, tidak lumrah ditanyakan, karena fakta semacam itu biasanya sudah menjadi fakta publik (misalnya terekam dalam buku tentang tokoh penting).

Kemudian pendapat, harapan, cita-cita, atau aspirasi seseorang yang diwawancarai. Sebagai fakta, sudah tentu pendapat dan sebagainya itu hanya bisa diperoleh melalui wawancara. Kembali pada kasus pemukulan, melalui wawancara misalnya diketahui bahwa korban pemukulan bermaksud mengadukan si pemukul ke polisi agar diadili.

Tidak selalu wawancara berjalan lancar. Di satu sisi, pertanyaan yang terlalu langsung ke masalah, terlalu abstrak lantas tidak dipahami, atau terlalu dangkal sehingga tidak menggelitik kapasitas intelektual yang bersangkutan, menyebabkan pihak yang diwawancarai enggan menjawab. Bisa pula terjadi, pertanyaan yang dirumuskan bernada memojokkan, membuat yang bersangkutan marah lalu berhenti menjawab. Kendala lain, pihak yang diwawancarai sukar merumuskan pikiran, sehingga memberi jawaban yang tak jelas atau sepotong-sepotong. Menghadapi pelbagai kendala semacam itu, diperlukan banyak kiat dalam merumuskan dan mengajukan pertanyaan. Kiat yang tepat dapat dipelajari berdasarkan pengalaman sendiri maupun orang lain, namun perlu didukung pemahaman atas karakter seseorang.

Teknik Riset dan Dokumentasi

Riset dokumentasi dipakai untuk mendapatkan fakta tertulis, baik berupa angka (jumlah, besaran, baik dalam bentuk tabel atau tidak), bagan/diagram, atau teks (tulisan, surat perjanjian, surat keputusan, dll). Fakta semacam ini biasanya digunakan untuk memperjelas atau sebagai bukti pendukung dalam pengungkapan suatu peristiwa. Tidak selalu fakta tertulis dapat digunakan begitu saja. Data terkuantifikasi dalam bentuk tabel misalnya, terkadang memerlukan interprestasi. Teks mungkin hanya diperlukan sebagian. Yang penting diperhatikan dalam penggunaan fakta tertulis adalah sumbernya. Sumber harus disebutkan (kecuali ada perjanjian khusus), dan sumber itu sendiri harus mempunyai otoritas atas fakta itu.

Jenis dan Ragam Peristiwa Berita

Telah disebutkan, ketika meliput jurnalis bertugas mencari dan mengumpulkan fakta tentang suatu peristiwa. Sekalipun cara peliputan yang digunakan sama, namun jurnalis mengalami kondisi yang berbeda ketika meliput dilihat berdasarkan kategori peristiwa teragenda, peristiwa fenomena.
  1. Peristiwa momentum adalah peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tidak disangka-sangka. Karena terjadi tiba-tiba, nilai aktualitas menjadi tinggi. Jika peristiwa itu penting untuk segera diketahui pembaca, maka jurnalis meliput sesegera mungkin, lalu diberitakan segera mungkin. Jadi, ketika meliput, jurnalis penuh ketergesaan, namun harus tetap cermat.
  2. Peristiwa teragenda adalah peristiwa yang kapan terjadi telah diketahui sebelumnya. Meliput peristiwa teragenda, karena sudah diketahui sebelumnya, memberi peluang bagi jurnalis untuk melakukan persiapan. Misalnya pemilihan umum sudah diketahui kapan berlangsung. Sebelum pemilihan umum diselenggarakan, persiapan sudah dapat dilakukan jauh hari. 
  3. Sedang peristiwa fenomena terdiri atas sejumlah kejadian yang menggejala. Belum tentu antara suatu kejadian dan kejadian lain tampak pertautan yang jelas. Masing-masing bisa bermunculan di sejumlah tempat yang tersebar dan mencuat pada waktu yang berbeda, seolah berdiri sendiri. Semakin tinggi frekuensi kemunculannya, semakin mudah melihatnya sebagai fenomena. Akan tetapi, seringkali gejala itu berlangsung tanpa pertanda yang tegas, karena sering terabaikan. Diperlukan kemampuan menginterprestasikan hubungan antar kejadian sebelum dapat dipahami sebagai suatu fenomena. Meliput fenomena memerlukan pendalaman masalah, kesabaran, kecermatan, kepekaan, serta sikap kritis yang teruji. Peliputan peristiwa fenomena menghasilkan laporan mendalam.

Bagaimana Menghadapi Sebuah Objek Realitas

Banyak peristiwa terjadi setiap hari. Namun, belum tentu setiap hari ada peristiwa yang layak diberitakan. Meski demikian, bukan berarti jurnalis dengan sendirinya berhenti meliput. Jika tidak ada peristiwa momentum yang layak diberitakan, jurnalis tetap bisa meliput. Banyak fakta yang dapat dicari dan dikumpulkan, untuk kemudian ditulis menjadi berita yang layak disiarkan, asal ada kemauan untuk melihat fakta secara kontekstual. Artinya, fakta dilihat maknanya dalam konteks yang lebih luas.
Realitas dalam kehidupan masyarakat kadang-kadang tampak sebagai sesuatu yang rutin, tak cukup menarik untuk diperhatikan. Begitu banyak orang, begitu banyak benda, yang mana yang perlu diamati atau siapa yang perlu diwawancarai?

Pemaknaan fakta secara kontekstual dapat membantu untuk mengenali gejala (fenomena). Gejala lebih lama berlangsung. Karena itu, mengumpulkan fakta yang berkaitan dengan suatu gejala memerlukan waktu yang lebih lama pula. Fakta dicari, dikumpulkan sedikit demi sedikit. Namun, agar bisa mengumpulkan fakta semacam itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan untuk melihat relasi antar fakta. Suatu kemampuan yang dapat berkembang jika didukung kerangka konsep tentang apa yang ingin diketahui.

Gejala sosial yang paling menonjol dalam masyarakat adalah perubahan. Di satu sisi, terjadi perubahan pesat di tengah masyarakat perkotaan. Kota semakin padat, menjadi metropolis sebagai pusat perdagangan, industri serta dunia hiburan. Di sisi lain, desa juga berubah karena lahan pertanian semakin sempit sementara lapangan kerja baru tidak bertambah. Selain diserbu perumahan milik orang kota, desa juga diserbu budaya kota. Daya tarik budaya kota dan semakin sempitnya lapangan kerja di desa, menyebabkan penduduk desa migran ke kota.

Budaya kota, dan keinginan penduduk desa menjadi orang kota, bertemu dalam realitas kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan itu. Perubahan terus berlanjut dengan kehadiran iklim reformasi, iklim globalisasi, dan sebagainya. Semua perubahan itu melahirkan pelbagai persoalan. Ada persoalan yang mencuat ke permukaan sebagai peristiwa momentum. Tetapi banyak pula persoalan yang terus berlanjut tak terpecahkan, bahkan mungkin semakin meluas, tanpa letupan kejadian.
Fenomena seperti itu sudah tentu banyak yang layak diberitakan. Tantangan bagi jurnalis adalah kepekaan untuk mengungkap fenomena tersebut.

Bagaimana Menghadapi Pihak-pihak dalam Peliputan

Telah dikemukakan bahwa dalam peristiwa selalu terdapat pihak-pihak yang berinteraksi. Setiap pihak memiliki kepentingan tertentu dalam peristiwa tersebut, sebab kepentingan pihak-pihak itulah yang antara lain menyebabkan peristiwa terjadi.

Ketika jurnalis meliput suatu peristiwa, pihak-pihak yang berinteraksi di dalam peristiwa itu menjadi sumber informasi. Sebagai contoh, jika ada pemukulan, maka jurnalis akan mewawancarai pemukul, korban, dan saksi. Ada kemungkinan ketika diwawancarai, baik si pemukul maupun korban, cenderung akan memberi jawaban yang membela kepentingan masing-masing. Di satu sisi mereka akan membela diri, di sisi lain menyalahkan pihak lain. Saksi pun mungkin saja cenderung membela salah satu pihak. Bahkan bukan mustahil salah satu pihak akan mempengaruhi jurnalis agar menulis berita yang membela kepentingan sendiri.

Kondisi semacam itu harus disikapi jurnalis secara cermat. Jurnalis tetap dituntut memberitakan secara objektif. Karena itu, ketika meliput jurnalis dituntut agar selalu menerapkan prinsip cover both sides, fairness, balance, non-partisan, menjunjung tinggi etika profesi, dan memegang teguh janji (off the record, not for atribution, dsb).

Cover both sides berarti meliput kedua pihak tanpa pandang bulu. Hal ini dimaksudkan agar jurnalis memperoleh fakta yang lengkap, objektif, dan benar. Fakta tentang suatu peristiwa yang melibatkan dua pihak atau lebih, baru bisa disebut lengkap fakta dari setiap pihak ditampilkan. Peliputan cover both sides sekaligus membuka peluang bagi jurnalis melakukan chek and rechek (mencek ulang). Fakta yang diperoleh dari pihak pertama, tidak hanya dicek ulang kepada pihak tersebut, tetapi dibandingkan dan dicek ulang terhadap fakta yang diberitakan pihak lain.

Fairness berarti menjaga kejujuran baik terhadap fakta maupun pihak yang berinteraksi dalam suatu peristiwa. Jika fakta yang diperoleh tentang satu pihak memang menggambarkan sisi negatif atau sisi positif keberadaan pihak tersebut, semua diberitakan. Jangan hanya fakta positif atau fakta negatif yang diberitakan.

Balance (keseimbangan) berarti memberi kesempatan yang sama. Kesempatan wawancara tidak hanya diberikan kepada satu pihak saja, melainkan kepada semua pihak. Balance tidak boleh dimaknai secara sempit, dalam pengertian kalau yang satu diwawancarai satu jam, atau hasil wawancara ditulis satu alinea, maka yang lain demikian pula. Bukan begitu maksudnya, tetapi lebih upaya memberi kesempatan yang adil.

Non-partisan berarti tidak memihak. Jurnalis sah-sah saja mendukung ideologi tertentu, atau bersimpati terhadap kepribadian orang tertentu. Namun hal itu harus dilupakan ketika meliput. Pendapat pribadi, emosi (dalam pengertian rasa suka tidak suka terhadap seseorang atau kelompok orang), harus ditanggalkan ketika meliput.

Menjunjung etika profesi merupakan hal lain yang perlu selalu ditanamkan sebagai sikap jurnalis ketika meliput. Etika profesi bersumber pada dua acuan. Pertama, etika profesi yang berasal dari kode etik jurnalis yang disusun asosiasi profesi jurnalis. Kedua, etika profesi yang berasal dari ketetapan-ketetapan yang digariskan perusahaan penerbitan pers tempat jurnalis bekerja.

Memegang teguh janji. Ada kalanya sumber informasi tidak ingin namanya disebut (not for artribution) meski yang bersangkutan bersedia memaparkan fakta yang dimiliki. Sejauh alasan itu dapat diterima, semisal karena dinilai bisa membahayakan dirinya (ancaman terhadap karir atau kehidupan), permintaan semacam itu harus dipenuhi. Demikian pula permintaan tidak untuk diberitakan (off the record). Namun jurnalis bersikap kritis terhadap permintaan semacam itu, mempertanyakan sungguh-sungguh alasan di balik permintaan tersebut. Kadang-kadang, ada saja pihak yang meminta demikian ada konsekuensi yang membahayakan.

Demikianlah detail dari teknik peliputan dalam kerja jurnalistik. Prinsip-prinsip tersebut, terlebih mengenai masalah cover both side, fairness, dan keseimbangan, patut menjadi perhatian lebih oleh wartawan. Karena beberapa hal di ataslah yang menentukan mana berita dan mana fitnah. Karena dua bagian ini sperti dua sisi yang saling bertentangan, satu kebenaran dan satu lagi tuduhan, satu sorga satulagi neraka, tentu kerja sebagai seorang perlu sangat hati-hati.

Pada saat jurnalisme mampu memberitakan sebuah kebenaran, ia bekerja seperti malaikat yang mengungkapkan munculnya kebenaran dengan konskwensi banyak hal, seperti terungkapnya kecurangan, terungkapnya korupsi, terungkapnya ketidak adilan dan lain-lain. Pada saat yang lain, bila jurnalisme mengungkapkan sebuah tuduhan ia bekerja seperti setan yang mengungkapkan munculnya kesalahan dengan konsekwensi banyak hal, tertutupnya kecurangan, amannya perilaku korupsi, dan kuatnya ketidak adilan.

Karena itu, semoga artikel teknik peliputan ini bisa memberikan manfaat kepada Anda dan dapat menunjang profesionalisme sebagai seorang jurnalis sejati.

Share this article :

Advertorial

Koleksi Cantik Titi Kamal

Xiaomi? Stock Terbatas

HD Display 2 Front Firing Speakers

Anda Kolektor Uang Kuno?

Vivall.TV Streaming

Total Reader

 
Support : Radar URL Stats ONLINE | Radar Flag Counter | twitter:@radar_indonesia
Copyright © 2013. Radar Indonesia News - All Rights Reserved
Template Created by radar-indo.com Published by radar-indo.com
Proudly powered by radar-indo.com